Penginjilan Melalui Penyerahan Diri - 3

Penginjilan Melalui Penyerahan Diri - 3

Iman Bunda Maria memang memiliki kualitas yang unik dan konsisten dari awal hingga akhir: iman yang menerima keputusan Allah dengan penuh ketaatan dan penyerahan diri, bahkan ketika keputusan itu tidak dimengerti dan penuh dengan penderitaan.

Mari kita telusuri bentuk iman "yang menerima" ini dalam perjalanan hidupnya, dari Salam Malaikat hingga di bawah Kayu Salib.

1. Pada Salam Malaikat (Lukas 1:26-38): Menerima Panggilan yang Tak Terduga

· Situasi: Seorang perempuan muda, bertunangan, tiba-tiba dihadapkan pada rencana Allah yang luar biasa dan berisiko tinggi (hukuman rajam karena dianggap hamil di luar nikah).
· Respons Iman: Setelah bertanya "bagaimana hal itu mungkin terjadi?", Maria tidak mempertanyakan mengapa atau menolak. Responsnya adalah: "Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu."
· Bentuk Iman: Iman yang bersifat menerima (receptive faith). Ini adalah penyerahan total (Fiat) ke dalam rencana Allah, meski masa depannya menjadi tidak pasti dan penuh bahaya. Ia menerima identitas dan misi yang diberikan Allah kepadanya.

2. Pada Pemberitahuan Simeon (Lukas 2:34-35): Menerima Ramalan Penderitaan

· Situasi: Setelah sukacita kelahiran Yesus, Simeon menubuatkan bahwa Yesus akan menjadi tanda yang menimbulkan perbantahan dan bahwa sebuah pedang akan menembus jiwa Maria sendiri.
· Respons Iman: Tidak ada catatan bahwa Maria protes, memohon agar hal itu diubah, atau panik. Ia menerima dan menyimpan semuanya dalam hatinya.
· Bentuk Iman: Iman yang menerima penderitaan sebagai bagian dari rencana Allah. Ia menerima bahwa sukacita menjadi bunda Mesias juga berarti ikut serta dalam penderitaan-Nya. Iman ini adalah persetujuan diam-diam untuk menderita bersama Putranya.

3. Pada Pencarian Yesus yang Hilang (Lukas 2:48-50): Menerima Ketidakmengertian

· Situasi: Setelah tiga hari mencari, mereka menemukan Yesus di Bait Allah. Maria menyampaikan kecemasannya, dan Yesus menjawab dengan kata-kata yang tidak mereka mengerti: "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?"
· Respons Iman: Sekali lagi, Maria tidak membantah. Lukas mencatat: "Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka." Lalu, Maria menyimpan semuanya itu dalam hatinya.
· Bentuk Iman: Iman yang menerima misteri. Ini adalah iman yang terus percaya dan merenungkan, bahkan ketika firman atau kejadian melampaui pemahaman manusiawinya. Ia menerima bahwa Putranya memiliki relasi dan misi yang melampaui relasi ibu-anak secara alamiah.

4. Pada Perkawinan di Kana (Yohanes 2:3-5): Menerima Waktu dan Cara Tuhan

· Situasi: Maria memohon pertolongan untuk memecahkan masalah memalukan bagi tuan rumah. Yesus seolah-olah "menolak" dengan berkata, "Mau apa engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba."
· Respons Iman: Maria tidak tersinggung atau memaksa. Ia justru berpaling kepada pelayan dan berkata, "Lakukanlah apa yang dikatakan-Nya kepadamu."
· Bentuk Iman: Iman yang menerima kedaulatan waktu dan cara Tuhan. Meski permintaannya seolah ditolak, ia percaya bahwa Yesus akan bertindak dengan cara-Nya sendiri dan pada waktu-Nya sendiri. Iman ini adalah kepercayaan penuh tanpa perlu mengontrol hasil atau prosesnya.

5. Di Bawah Kayu Salib (Yohanes 19:25-27): Menerima Puncak Penderitaan

· Situasi: Puncak dari ramalan Simeon. Ia menyaksikan Putra tunggalnya, yang dikasihinya, disiksa dan mati dengan hina di kayu salib. Segala pengharapan manusiawi hancur berantakan.
· Respons Iman: Tidak ada teriakan, kutukan, atau upaya untuk menghentikannya. Maria berdiri di situ. Kata "berdiri" (stare dalam bahasa Latin) menunjukkan keteguhan, ketekunan, dan keberanian. Ia menerima peran barunya dari Yesus yang sekarat untuk menjadi ibu bagi Yohanes (yang melambangkan Gereja).
· Bentuk Iman: Iman yang menerima bahkan ketika semua tampak gelap dan Allah seolah-olah diam. Ini adalah puncak dari Fiat-nya. Di saat yang paling menyakitkan, ia tetap mengatakan "jadilah" kepada rencana Allah, sekalipun rencana itu kini berbentuk salib. Ia menerima kehendak Allah sampai pada titik yang paling ekstrem.

Ringkasan Bentuk Iman Maria

Iman Maria adalah Iman yang Menerima (Receptive Faith). Ciri-cirinya:

1. Bukan Iman yang Mengontrol, tetapi yang Menyerahkan Diri.
2. Bukan Iman yang Hanya di Saat Senang, tetapi yang Tetap Berdiri di Saat Penderitaan.
3. Bukan Iman yang Harus Paham Semuanya, tetapi yang Percaya dan Merenungkan Misteri.
4. Bukan Iman Pasif, tetapi Aktif dalam Ketaatan dan Ketekunan.

Dari Nazaret hingga Golgota, Maria memodelkan sebuah jalan iman yang tidak berusaha menghindari kehendak Allah, tetapi merangkulnya sepenuhnya, dengan keyakinan bahwa Allah yang memanggilnya adalah setia. Inilah bentuk penginjilan yang paling mendalam: hidup yang sepenuhnya ditaklukkan kepada kedaulatan dan kasih Allah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LTTI 2.0 Logika Trinitas Transenden Imanen - 3

LTTI 2.0 Logika Trinitas Transenden Imanen - 1

Eksegesis Intra Pentateukh Kel 3:14-15, 7:1