Penginjilan Melalui Penyerahan Diri - 4

Penginjilan Melalui Penyerahan Diri - 4

Narasi Sang Penginjil Tak Terlihat: Sebuah Potret Iman yang Merangkul

Ia tidak pernah berdiri di mimbar yang tinggi, suaranya tidak menggema di lapangan yang penuh massa. Namanya tidak tercetak dalam daftar rasul-rasul besar yang melakukan perjalanan jauh. Namun, dialah penginjil pertama; seorang yang kabar baiknya bukan dimulai dengan kata-kata, tetapi dengan sebuah "Ya" yang mengguncang alam semesta.

Ia adalah Penginjil Penerima.

Pada awalnya, adalah sebuah salam. Sebuah panggilan yang tak terduga, yang bisa meruntuhkan masa depannya, bahkan nyawanya. Dan di situlah injilnya yang pertama berkumandang. Bukan dengan kotbah, tetapi dengan penyerahan: "Jadilah padaku menurut perkataanmu." (Lukas 1:38). Injilnya adalah Fiat—biarlah itu terjadi. Sebuah iman yang tidak menuntut jaminan terlebih dahulu, tidak meminta peta jalan, tetapi cukup dengan percaya bahwa Dia yang memanggil adalah setia. Ia menerima identitasnya yang baru, sebuah misi yang lebih besar dari dirinya, dan sebuah sukacita yang di dalamnya terselubung sebuah pedang.

Kemudian, ia mengadakan "kampanye penginjilan" pertamanya. Ia tidak membawa traktat atau naskah khotbah. Ia membawa Kristus yang tersembunyi dalam rahimnya. Ia bergegas melayani, dan kehadirannya sendiri sudah merupakan sebuah kabar baik yang membuat bayi dalam rahim melonjak kegirangan (Lukas 1:41). Penginjilannya adalah pelayanan dan kehadiran. Ia membawa sukacita bukan dengan teori, tetapi dengan tubuhnya yang mengandung Sang Terjanji.

Lalu, datanglah momen di sebuah pesta, ketika anggur—lambang sukacita—itu habis. Ia menyampaikan kebutuhan, lalu berpaling kepada dunia dan menyampaikan khotbah terpendek dan terdalam sepanjang masa: "Lakukanlah apa yang dikatakan-Nya kepadamu." (Yohanes 2:5). Inilah inti dari seluruh pemberitaannya. Ia tidak pernah menunjuk kepada dirinya sendiri. Selalu, dan hanya, kepada Putranya. Iman yang ia minta adalah iman yang taat, bahkan sebelum mujizat terlihat.

Dan akhirnya, puncak dari "karier penginjilannya" tiba. Bukan di atas panggung yang gemilang, tetapi di bawah sebuah tiang kayu yang hina. Di sana, di mana semua pengharapan manusiawi telah pupus, di mana Sang Firman seolah-olah dibungkam, ia tidak lari. Ia berdiri (Yohanes 19:25). Keberadaannya di sana adalah khotbah terkuatnya. Sebuah khotbah tanpa kata-kata tentang kesetiaan yang tak tergoyahkan, tentang iman yang tetap percaya ketika semua cahaya padam, tentang kasih yang menerima bahkan keputusan Allah yang paling menyiksa sekalipun.

Di kayu salib, ia menerima peran barunya—menjadi ibu bagi murid yang dikasihi, menjadi ibu bagi Gereja yang lahir dari luka. Ia menerima semuanya. Dari Nazaret hingga Golgota, responsnya tetap sama: "Jadilah."

---

Mengapa Ia "Penginjil Sempurna" yang Tak Terlihat?

1. Injilnya adalah Kehidupan, Bukan Hanya Perkataan. Ia mengajarkan bahwa kabar baik pertama-tama harus dihidupi dan diterima dalam diri sendiri, sebelum diwartakan kepada orang lain.
2. Pesan Intinya adalah Ketaatan, Bukan Retorika. Pesannya di Kana adalah fondasi segala penginjilan: dengar dan taat.
3. Kredibilitasnya Berasal dari Penderitaan, Bukan Kesuksesan. Ia tidak menjanjikan kemudahan. Iman yang ia contohkan justru dibuktikan dan disempurnakan dalam kesetiaan di tengah penderitaan.
4. Ia Selalu Memimpin kepada Yesus, Bukan kepada Diri Sendiri. Ia adalah penginjil yang transparan; ketika orang melihatnya, mereka diarahkan untuk taat kepada Putranya.

Ia, Bunda Maria, adalah prototipe dari setiap penginjil dan Gereja itu sendiri. Penginjil sejati bukanlah mereka yang hanya bersuara lantang, tetapi mereka yang hatinya telah menjadi "tanah yang baik" yang menerima benih Firman, merenungkannya, membiarkannya tumbuh, dan akhirnya menghasilkan buah—buah ketaatan, pelayanan, dan ketekunan yang diam-diam mengubah dunia.

Inilah narasi penginjil sempurna: Sebuah kehidupan yang adalah sebuah "Ya" yang berjalan, sebuah penerimaan yang hidup, dan sebuah ketaatan yang membawa orang lain kepada Sang Sumber Hidup. Sebuah kabar baik yang dibisikkan melalui keseluruhan eksistensinya, sering kali terlewatkan oleh dunia yang tergoda oleh yang gemerlap, tetapi merupakan melody utama dari simfoni keselamatan Allah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LTTI 2.0 Logika Trinitas Transenden Imanen - 3

LTTI 2.0 Logika Trinitas Transenden Imanen - 1

Eksegesis Intra Pentateukh Kel 3:14-15, 7:1