Allah Alkitab Bukan Allah Filsafat - Pendahuluan

Allah Alkitab Bukan Allah Filsafat 

Pendahuluan

Sebuah Narasi tentang Kesalahan Terbesar dalam Memahami Tuhan

---

Di padang gurun Horeb, seorang gembala tua bernama Musa mendekati semak yang terbakar tetapi tidak dimakan api. Dari dalam nyala itu, sebuah suara memanggil namanya. Musa, yang selama empat puluh tahun menggembalakan domba mertuanya, mungkin sudah lupa bahwa dirinya pernah pangeran Mesir. Tapi Tuhan tidak lupa. Tuhan melihat penderitaan umat-Nya di tanah perbudakan, dan Dia memutuskan untuk turun membebaskan mereka.

Musa, yang kini gemetar, bertanya, "Siapakah aku sehingga layak diutus?"

Jawab suara itu: "Aku akan menyertai engkau."

Musa bertanya lagi, "Apabila aku datang kepada orang Israel dan berkata, 'Allah nenek moyangmu mengutus aku kepadamu,' lalu mereka bertanya: 'Siapa nama-Nya?' – apa yang harus kujawab?"

Lalu Allah berfirman kepada Musa: "Ehyeh asyer ehyeh."

Aku akan menjadi siapa Aku akan menjadi.

Dan Ia berfirman lagi: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: 'Ehyeh – Aku akan menjadi – mengutus aku kepadamu."

Musa mengerti. Bukan karena ia paham filsafat, tetapi karena ia orang Ibrani yang tahu arti kata itu. Hayah bukan sekadar "ada" seperti batu yang diam. Hayah adalah menjadi, terjadi, hadir, bertindak, melibatkan diri. Allah tidak berkata, "Akulah prinsip metafisik yang tidak bergerak." Allah berkata, "Aku akan menjadi kehadiran yang menyertaimu. Aku akan menjadi pembebasmu. Aku akan menjadi apa pun yang diperlukan untuk menyelamatkan umat-Ku."

Itulah nama Allah dalam Perjanjian Lama. Sebuah nama yang dinamis. Sebuah nama yang berdenyut dengan tindakan. Sebuah nama yang tidak bisa diucapkan tanpa membayangkan sejarah pembebasan dari Mesir, penyeberangan Laut Merah, dan penggembalaan di padang gurun. Sebuah nama yang membuat Musa berani pulang ke Mesir, menghadap Firaun, dan membawa jutaan budak keluar dari rumah perbudakan.

---

Ketika Filsafat Masuk

Berabad-abad kemudian, di Aleksandria, para penerjemah Yahudi yang saleh mengerjakan tugas suci: menerjemahkan kitab-kitab Ibrani ke dalam bahasa Yunani. Mereka hidup di kota tempat perpustakaan terbesar di dunia berdiri, tempat para pengikut Plato dan Aristoteles berdebat tentang hakikat realitas. Mereka ingin pembaca Yunani mengerti bahwa Allah Israel adalah Allah yang benar, bukan dewa-dewa Olympia yang kacau.

Lalu mereka sampai di Keluaran 3:14.

Mereka membaca: 'Ehyeh asyer 'ehyeh.

Lalu mereka membaca lagi: 'Ehyeh mengutus aku.

Dan mereka terdiam.

Dalam bahasa Yunani, kata kerja di awal kalimat tidak bisa berdiri sendiri sebagai subjek. "Aku akan menjadi" – lalu diikuti "mengutus aku" – terdengar janggal, tidak gramatikal. Lagipula, bagaimana menjelaskan kepada orang Yunani bahwa nama Tuhan adalah sebuah kata kerja bentuk未来? Orang Yunani mencari Being, bukan Becoming. Mereka mencari sesuatu yang tetap, tidak berubah, sempurna – bukan sesuatu yang "menjadi", karena bagi Plato, "menjadi" berarti tidak sempurna.

Maka mereka mengambil keputusan yang mengubah sejarah teologi Barat selamanya.

Mereka menerjemahkan 'Ehyeh asyer 'ehyeh menjadi: Egō eimi ho ōn.

"Akulah Yang Ada."

Dan 'Ehyeh di ayat 14b menjadi: ho ōn.

"Yang Ada."

---

Blunder Besar Itu Bernama Hellenisasi

Sekilas ini tidak terlihat seperti kesalahan. Bukankah Allah memang "ada"? Bukankah Dia kekal, tidak berubah, transenden? Benar. Tapi itu bukan poin utama dalam Keluaran 3.

Ribuan tahun kemudian, para sarjana mulai menyadari apa yang telah terjadi. LXX tidak hanya menerjemahkan; dia menafsir ulang. Dan penafsiran ulang itu membawa Allah Ibrani yang hadir dalam sejarah ke dalam ruang kuliah para filsuf Yunani.

Perhatikan apa yang hilang:

Dalam Teks Ibrani Dalam LXX (dan yang mengikutinya)
Allah berkata: "Aku akan menjadi" Allah berkata: "Aku ada"
Fokus pada masa depan dan tindakan Fokus pada saat ini dan esensi
Allah dikenal dari apa yang Ia lakukan Allah dikenal dari apa yang Ia adalah
Nama-Nya adalah janji kehadiran Nama-Nya adalah pernyataan ontologis
Musa diutus oleh "Aku akan menjadi" Musa diutus oleh "Yang Ada"

Perubahan ini tampak kecil. Tapi seperti kerikil kecil yang menyebabkan longsor, perubahan ini melumpuhkan pemahaman Alkitab selama berabad-abad.

---

Dampak yang Menghancurkan

Ketika Hieronimus membuat Vulgata, ia mengikuti jejak LXX. Ia menulis: Ego sum qui sum dan Qui est misit me. (Meskipun ia berusaha kembali ke struktur Ibrani dengan qui sum, tetap saja makna "menjadi" hilang.)

Ketika Agustinus membaca Alkitab Latin, ia melihat Qui est dan langsung menghubungkannya dengan Allah Plato: yang tidak berubah, yang benar-benar ada, yang menjadi sumber segala realitas. Ia tidak salah secara teologis, tetapi ia kehilangan sesuatu: Allah yang berkata "Aku akan menjadi" sebagai respons terhadap penderitaan budak di Mesir.

Ketika Aquinas menulis Summa Theologica, ia menghabiskan ratusan halaman membahas ipsum esse subsistens (Keberadaan itu sendiri yang berdiri sendiri) – sebuah konsep yang indah secara filosofis, tetapi hampir tidak terlihat seperti Allah yang berjalan di taman Eden, yang marah kepada Firaun, yang menangis karena umat-Nya, yang turun dalam awan dan tiang api.

Kitab Suci berubah menjadi buku metafisika. Allah para pembebas berubah menjadi Unmoved Mover. Iman menjadi sistem, dan perjumpaan dengan Yang Hidup menjadi perdebatan tentang esensi.

---

Akar Masalah: Mengapa Ini Blunder?

Blunder ini bukan sekadar kesalahan teknis penerjemahan. Blunder ini adalah pengkhianatan epistemologis cara Allah memilih untuk menyatakan diri-Nya.

Perhatikan: Allah tidak pernah berkata: "Aku adalah Yang Mahakuasa" sebagai definisi esensi. Ia berkata: "Akulah yang membawa engkau keluar dari Mesir." Ia tidak berkata: "Aku adalah Mahatahu." Ia berkata: "Aku melihat penderitaan umat-Ku." Ia tidak berkata: "Aku adalah Yang Tidak Berubah." Ia berkata: "Aku akan menyertai engkau."

Allah di Alkitab dikenal melalui tindakan, bukan melalui esensi. Ia dikenal dalam sejarah, bukan dalam abstraksi. Ia dikenal dalam relasi, bukan dalam kontemplasi.

Ketika filsafat Yunani mengambil alih, urutannya terbalik. Orang mulai bertanya: "Apa hakikat Allah?" – bukan "Apa yang Allah lakukan?" Mereka mulai mencari definisi – bukan relasi. Mereka mulai mengontemplasikan Yang Tidak Bergerak – sementara di tempat lain, Tuhan masih menangis di atas Yerusalem.

---

Rehabilitasi yang Terlambat

Pada abad ke-20, para teolog mulai memberontak. Karl Barth menolak mencoba membuktikan keberadaan Allah dengan argumen filosofis. "Kita tidak bisa berbicara tentang Allah," katanya, "kecuali Allah berbicara lebih dulu."

Rudolf Bultmann, ironisnya, meskipun menggunakan filsafat eksistensial, setidaknya mengakui bahwa Allah Alkitab adalah Allah yang bertindak dan memanggil – bukan Allah yang diam di puncak gunung Parmenides.

Teolog pembebasan seperti Gustavo Gutiérrez membaca Keluaran 3:14 dengan mata baru. Mereka menemukan kembali bahwa 'Ehyeh adalah nama Allah yang membebaskan. Bagi mereka, pertanyaan tentang "Ada atau tidak ada Allah" tidak relevan; yang relevan adalah: "Apakah Allah memihak pada orang miskin?" – dan jawaban dari semak yang terbakar adalah: "Aku akan menjadi pembebasmu."

Para sarjana Perjanjian Lama seperti Brevard Childs dan Walter Brueggemann dengan lantang mengatakan: Kita harus berhenti membaca Platonisme ke dalam Keluaran 3. Tugas kita adalah mendengarkan teks Ibrani apa adanya, bukan apa yang kita ingin dia katakan.

Tapi kerusakan telah terjadi. Ratusan tahun khotbah yang mengatakan "Allah adalah Being itu sendiri" tanpa pernah menyebut bahwa Being itu sendiri turun ke Mesir untuk melawan Firaun. Ribuan halaman teologi sistematika yang membahas atribut-atribut Allah tetapi lupa bahwa atribut pertama Allah adalah Ia menyertai umat-Nya yang menderita.

---

Kesimpulan: Pulang ke Semak yang Terbakar

Ini bukan kata pengantar untuk membuang semua pemikiran filsafat. Filsafat Yunani telah memberikan banyak alat yang berguna. Konsep kekekalan, kesatuan, dan kesempurnaan Allah tidak salah – selama ia tidak menjadi pengganti Allah yang hidup.

Tapi blunder tetaplah blunder. Memahami Allah Alkitab dengan kacamata filsafat Yunani tanpa kritik adalah seperti menjelaskan pelangi dengan teori warna tanpa pernah melihat pelangi. Anda mendapatkan rumus yang benar, tetapi Anda kehilangan keindahan, keajaiban, dan air mata di baliknya.

Allah Alkitab bukan Unmoved Mover. Ia adalah Allah yang bergerak menuju umat-Nya.

Allah Alkitab bukan Being itu sendiri. Ia adalah Allah yang menjadi hadir dalam sejarah.

Allah Alkitab bukan actus purus yang tanpa potensi. Ia adalah Allah yang mungkin disentuh, mungkin dimarahi, mungkin ditangisi.

Ia memperkenalkan diri bukan dengan "Akulah Yang Ada" – tetapi dengan:

*'Ehyeh asyer 'ehyeh. *

"Aku akan menjadi siapa Aku akan menjadi."

Dan itu berarti: Aku akan menjadi pembebasmu. Aku akan menjadi penyertaimu. Aku akan menjadi Allahmu, dan kamu akan menjadi umat-Ku. Dan tidak ada filsafat mana pun di dunia ini yang bisa mereduksi kebesaran nama itu.

Musa pun melepas kasutnya, sebab tempat ia berdiri adalah tanah kudus.

Kita juga harus melepas kasut filsafat kita, dan berdiri di hadapan Allah yang hidup – yang tidak pernah diam di atas kertas, tetapi selalu bergerak dalam sejarah untuk menyelamatkan.

---

Soli Deo Gloria – kepada Allah yang "menjadi" bagi umat-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LTTI 2.0 Logika Trinitas Transenden Imanen - 3

LTTI 2.0 Logika Trinitas Transenden Imanen - 1

Eksegesis Intra Pentateukh Kel 3:14-15, 7:1