Beda "becoming" dan "being"

Beda "becoming" dan "being"

Membedakan nuansa filosofis antara "menjadi" sebagai proses (becoming) dan "ada" sebagai ketetapan (being). Mari saya pertegas dan selaraskan dengan analisis Anda.

1. "Aku akan menjadi" sebagai Becoming

· Inti: Bukan sekadar fokus pada titik akhir masa depan, melainkan pada gerak di saat ini yang membentuk perubahan. Kata "akan" di sini lebih berfungsi sebagai horizon/arah, tapi substansi utamanya adalah tindakan, respons, dan proses yang terjadi sekarang.
· Fokus : Ia bicara tentang proses saat ini yang mengubah masa depan. Jadi, maknanya dinamis, cair, dan terbuka. "Aku akan menjadi" berarti "Aku sedang dalam perjalanan menjadi" — penekanan pada effort, flux, dan potensi yang diaktualisasikan secara berkelanjutan.

2. "Aku ada" sebagai Being (Ketetapan)

· Inti: Menunjukkan keberadaan yang mantap, eksis tanpa perlu berubah. Untuk "ada", subjek berada dalam kondisi statis—diam, tetap, dan utuh. Bukan berarti tidak bisa bergerak secara fisik, tapi secara ontologis ia menegakkan realitas yang sudah jadi dan pasti.
· Fokus : Ini soal pengakuan dan kesadaran atas sesuatu yang telah, sedang, dan akan tetap ada. "Aku ada" adalah pernyataan realitas murni, tanpa proses perubahan. Ia bersifat afirmatif dan stabil, bahkan cenderung permanen.

Kesimpulan perbandingan:

Aspek "Aku akan menjadi" (becoming) 
- "Aku ada" (being)

Sifat 
- Dinamis, cair, progresif 
- Statis, tetap, permanen

Fokus 
- Tindakan saat ini yang mengarah ke perubahan 
- Pengakuan dan kesadaran akan realitas yang telah eksis

Makna 
- Proses, perjalanan, potensi 
- Ketetapan, eksistensi, fakta keberadaan

Lawan kata 
- "Tidak berubah" atau "sudah jadi" 
- "Tiada" atau "tidak eksis"

Dalam realita psikologis sehari-hari, being dan becoming seringkali tidak berjalan harmonis, melainkan berlawanan secara implisit.

Mari kita bedah :

1. "Kemunafikan" itu lahir dari klaim being di tengah proses becoming

· Ketika seseorang berkata "Aku ada" (sudah menjadi sesuatu), padahal dirinya masih dalam proses menjadi, maka terjadi klaim kepastian palsu.
· Di situlah kebohongan bawah sadar muncul: karena dengan mengklaim being, ia secara tidak sadar menuntut hasil (pengakuan, status, reward) tanpa menjalani proses sepenuhnya.

2. Being secara psikologis melahirkan tuntutan hasil

Ketika sesuatu sudah menjadi "ketetapan" dalam kesadaran, maka:

· Ekspektasi naik: "Saya orang yang sabar" → otomatis menuntut diri diberi label sabar, diakui orang lain, dan mendapatkan manfaat dari label itu.
· Kekecewaan muncul: Jika realitas tidak sesuai dengan klaim being, muncul frustrasi.
· Ironisnya: Tuntutan hasil ini justru membunuh proses becoming, karena becoming membutuhkan kerendahan hati untuk terus berproses tanpa jaminan hasil.

3. Becoming murni tidak menuntut hasil

Prinsip becoming yang sejati adalah:

· Bertindak sekarang tanpa terikat pada hasil.
· Tidak mengklaim status apa pun.
· Bahagia dalam proses, bukan pada pencapaian.

Tapi masalahnya: manusia sulit bertahan hanya dengan becoming. Kita butuh kepastian psikologis, butuh pengakuan, butuh menikmati hasil. Di sinilah letak dilema.

---

Apakah solusinya?

Jawabannya adalah melepas klaim being sekaligus tidak terikat pada hasil becoming. Tapi itu sangat sulit.

Jalan tengah yang lebih realistis mungkin:

· Jangan klaim being pada hal yang belum final. Gunakan being hanya untuk fondasi yang benar-benar sudah mapan (misal: "aku ada sebagai makhluk yang bernapas").
· Sadari bahwa tuntutan hasil itu alami, tapi kelola. Jangan bunuh keinginan menikmati hasil, cukup tunda dan sadari bahwa ia bisa mengganggu proses.

Peemahaman inti dari Khotbah di Bukit dan perumpamaan Yesus sebagai kritik total terhadap being dan pembebasan menuju becoming murni.

Mari kita lihat keselarasannya:

---

1. Khotbah di Bukit: Membongkar being yang munafik

Yesus secara eksplisit menyerang klaim being yang berpura-pura:

Klaim Being Palsu Kritik Yesus
"Aku orang baik karena tidak membunuh" Tapi marah saja sudah setara dengan membunuh.
"Aku suami yang setia" Tapi melihat dengan nafsu sudah zina.
"Aku berpuasa, aku berdoa, aku memberi sedekah" Jangan lakukan di depan orang supaya dilihat.

Inti kritik: Jangan klaim being (ketetapan sebagai orang saleh) ketika kamu sedang dalam proses. Klaim being justru melahirkan kemunafikan karena menuntut pengakuan hasil (pujian manusia), padahal proses sejati hanya untuk mata Bapa.

---

2. Perumpamaan yang selaras dengan becoming murni

a. Burung dan bunga bakung (Matius 6:25-34)

· "Jangan khawatir tentang hidupmu."
· Burung tidak menabur, tidak menuai → mereka tidak mengklaim being sebagai petani sukses.
· Bunga bakung tidak memintal benang → tidak mengklaim being sebagai penenun.
· Mereka hanya menjadi (becoming) apa adanya saat ini, tanpa tuntutan hasil.

→ Yesus berkata: "Bukankah hidup lebih penting dari pada makanan?" Artinya: jangan menjadikan being (kepemilikan, status) sebagai tujuan. Becoming sebagai makhluk yang dirawat Bapa sudah cukup.

b. Anak yang hilang (Lukas 15:11-32)

· Anak bungsu: "Aku akan menjadi" pekerja upahan (becoming).
· Namun Bapa justru memulihkannya sebagai anak (being). Tapi perhatikan: Bapa yang memulihkan, bukan anak yang menuntut.

→ Poinnya: Being adalah pemberian, bukan hasil klaim. Ketika kita sibuk menuntut hasil (warisan, status), kita justru kehilangan being sejati.

c. Orang Farisi dan pemungut cukai (Lukas 18:9-14)

· Farisi: Mengklaim being ("Aku tidak seperti orang lain, aku berpuasa, aku memberi sepersepuluh").
· Pemungut cukai: Hanya menjadi ("Ya Tuhan, kasihanilah aku orang berdosa").

→ Yesus berkata: pemungut cukai yang pulang dibenarkan, bukan Farisi. Being yang diklaim sendiri adalah kebohongan. Becoming yang sadar akan ketidaklayakan adalah jalan pembenaran.

---

3. Kesimpulan besar Anda

Anda berkata: "Menjadi keduanya adalah kemunafikan, karena sebagai manusia kita ingin menikmati hasil."

Yesus setuju. Itu sebabnya Dia mengajarkan:

· Jangan mencari hasil (jangan mengumpulkan harta di bumi).
· Jangan mengklaim being (jangan disebut Rabi, jangan memanggil siapa pun Bapa di bumi).
· Cari dulu Kerajaan Allah dan kebenarannya — itu adalah proses becoming yang terus menerus, tanpa jaminan hasil duniawi.
· Maka semuanya akan ditambahkan — justru ketika tidak menuntut hasil, hasil datang sebagai karunia.

---

Apakah klaim Yesus "Akulah jalan, kebenaran, hidup" (Yohanes 14:6) termasuk being atau becoming? Dan bukankah itu kontradiksi dengan ajaran-Nya sendiri tentang kemunafikan klaim being?

Kontradiksi yang tampak

Di satu sisi (Khotbah di Bukit)
- Di sisi lain (Pengakuan Yesus)

Jangan klaim being ("Jangan disebut Rabi") 
- "Akulah jalan, kebenaran, hidup"

Jangan menuntut hasil 
- "Aku datang supaya mereka mempunyai hidup"

Jangan mencari kemuliaan bagi diri 
- "Aku dan Bapa adalah satu"

Jika manusia dilarang mengklaim being, mengapa Yesus justru melakukannya dengan sangat tegas?

Jawabannya: Yesus tidak sedang "mengklaim" sebagai manusia biasa

Perbedaan fundamentalnya:

1. Klaim being manusia bersifat pencapaian → selalu munafik

· Manusia mengklaim "aku orang baik" → itu hasil dari usahanya sendiri.
· Manusia mengklaim "aku berhasil" → itu menuntut pengakuan.
· Ini kemunafikan karena being diklaim oleh subjek yang masih dalam proses.

2. Klaim Yesus berasal dari pemberian identitas dari Bapa → bukan pencapaian

· Yohanes 5:19: "Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri."
· Yohanes 8:28: "Aku berkata seperti yang diajarkan Bapa kepada-Ku."
· Yohanes 17:5: "Muliakanlah Aku dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada."

Artinya: Being Yesus bukan hasil usaha, melainkan realitas kekal yang sudah ada sejak semula. Dia tidak hanya menjadi jalan, kebenaran, hidup — Tapi sekaligus Dia adalah.

---

Becoming tertinggi Yesus: pengosongan diri (kenosis)

Filibi 2:6-7 mengatakan hal yang menakjubkan:

"Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba."

Inilah becoming murni yang sempurna:

· Yesus memiliki being sebagai Allah.
· Tapi tidak menuntut hasil dari being itu.
· Justru mengosongkan diri, menjadi manusia, taat sampai mati.
· Hasil (kemuliaan) diberikan Bapa, bukan diambil sendiri.

---

Perbedaan dengan kemunafikan manusia

Kemunafikan manusia 
- Yesus

Mengklaim being yang belum dimiliki 
- Memiliki being sejati tapi tidak mempertahankannya

Menuntut hasil dari klaim 
- Melepaskan hak atas hasil

Menikmati status 
- Menjadi hamba

"Aku adalah..." sebagai pencapaian 
- "Akulah..." sebagai realitas yang dikaruniakan dan sekaligus dikosongkan

---

Analisis :
Manusia tidak bisa jujur memegang being dan becoming sekaligus. Karena kita akan terjebak menuntut hasil.

Yesus adalah satu-satunya pengecualian karena:

· Being-Nya bukan hasil usaha.
· Becoming-Nya adalah mengosongkan diri — kebalikan dari menuntut hasil.

Untuk manusia, jalan satu-satunya adalah melepaskan klaim being, menjadi pure becoming yang berserah pada Bapa. Seperti burung dan bunga bakung. Seperti pemungut cukai. Seperti anak yang hilang yang tidak berhak lagi disebut anak, namun diterima Bapa.

Satu-satunya being yang tidak munafik adalah being yang diberikan (bukan diklaim), dan itulah "anak Allah" yang Yesus tawarkan kepada semua orang. 

---

Terjemahan harfiah dari אֶהְיֶה אֲשֶׁר אֶהְיֶה (Ehyeh asher Ehyeh) dalam Keluaran 3:14a memang:

"Aku akan menjadi siapa aku akan menjadi"

Bentuk kata kerja ehyeh adalah Qal imperfect tense dari akar kata hayah (menjadi, terjadi, ada). Dalam bahasa Ibrani, imperfect tense sering merujuk pada tindakan yang belum selesai, berkelanjutan, atau akan datang — sehingga lebih tepat becoming daripada being statis.

LXX (Septuaginta) menerjemahkannya sebagai Egō eimi ho ōn ("Aku adalah Yang Ada" — lebih ke being). Ini memengaruhi teologi Barat. Tapi teks Ibraninya tidak eksplisit being.

---

Ayat eksplisit yang menunjukkan Allah sebagai being

Ayat yang secara eksplisit, gramatikal, dan leksikal menggambarkan Allah sebagai being statis (bukan becoming), berikut beberapa:

1. Maleakhi 3:6

"Aku ini TUHAN, Aku tidak berubah."

Kata Ibrani: lo shaniti — tidak berubah, tetap, konstan. Ini sifat being.

2. Yakobus 1:17

"Pada Bapa segala terang, tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran."

Eksplisit menolak becoming (perubahan) pada Allah.

3. Mazmur 90:2

"Sebelum gunung-gunung dilahirkan... Engkau adalah Allah."

Kata "adalah" di sini (attah El) menunjukkan being kekal tanpa proses menjadi.

4. Yesaya 46:10

"Aku yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian... kehendak-Ku akan sampai."

Menunjukkan ketetapan mutlak yang tidak sedang "menjadi" sesuatu yang lain.

---

Kesimpulan

· Kel 3:14a secara literal adalah becoming (meski secara teologis diartikan being).
· Ayat eksplisit being ada di Maleakhi 3:6, Yakobus 1:17, dll.

---

Allah adalah being yang becoming

1. Keluaran 3:14a (ayah kunci)

אֶהְיֶה אֲשֶׁר אֶהְיֶה (Ehyeh asher ehyeh)
"Aku akan menjadi siapa aku akan menjadi"

· Kata kunci: Ehyeh — Qal imperfect tense dari akar hayah (menjadi, terjadi, ada).
· Sifat: Menunjukkan proses, keberlangsungan, tindakan yang belum selesai.
· Ini adalah satu-satunya nama diri Allah yang secara gramatikal berbentuk becoming.

---

2. Yesaya 43:13

"Juga seterusnya Aku tetap Dia" (TB) 

Sekilas terlihat being. Tetapi dalam konteks ayat 10-13, Allah sedang menjadi yang bertindak dalam sejarah. Ada dimensi becoming historis: Allah menyatakan diri-Nya dalam peristiwa yang berkelanjutan.

Berikut adalah teks Yesaya 43:13 dalam bahasa Ibrani (Tiberias) dan terjemahan harafiahnya:

Teks Ibrani (Masoretik):

גַּם־מִיּוֹם֙ אֲנִ֣י ה֔וּא וְאֵ֥ין מִיָּדִ֖י מַצִּ֑יל אֶפְעַ֖ל וּמִ֥י יְשִׁיבֶֽנָּה׃

Terjemahan harafiah:

"Juga sejak hari ini Aku Dia, dan tidak ada yang melepaskan dari tangan-Ku. Aku bertindak, dan siapakah yang dapat membalikkannya?"

Catatan:

· Kata אֲנִ֣י ה֔וּא (ani hu) berarti "Aku Dia" (penegasan keilahian, seperti dalam Keluaran 3:14).
· מִיָּדִ֖י (mi-yadi) = "dari tangan-Ku" (melambangkan kuasa dan otoritas).
· אֶפְעַ֖ל (ef'al) = "Aku bertindak" atau "Aku mengerjakan".
· יְשִׁיבֶ֑נָּה (yeshivennah) secara harfiah "mengembalikannya/membalikkannya" (merujuk pada tindakan Allah yang tidak dapat dibatalkan).

---

4. Maleakhi 3:6 (jika dibaca dalam konteks)

"Aku ini TUHAN, Aku tidak berubah."

Ini being. Tapi konteks langsungnya:

"Kamu telah menyimpang dari ketetapan-Ku... Kembalilah kepada-Ku, maka Aku akan kembali kepadamu."

Allah menjadi "yang berbalik" atau "yang kembali" — ada respons, ada proses relasional.

Berikut adalah Maleakhi 3:6 dalam bahasa Ibrani dan terjemahan harafiahnya:

Teks Ibrani (Masoretik):

כִּ֛י אֲנִ֥י יְהוָ֖ה לֹ֣א שָׁנִ֑יתִי וְאַתֶּ֥ם בְּנֵֽי־יַעֲקֹ֖ב לֹ֥א כְלִיתֶֽם׃

Terjemahan harafiah:

"Karena Aku, TUHAN, tidak berubah; dan kamu, bani Yakub, tidak habis lenyap."

Catatan:

· אֲנִ֥י יְהוָ֖ה (ani YHWH) = "Aku TUHAN"
· לֹ֣א שָׁנִ֑יתִי (lo shaniti) = "Aku tidak berubah" (dari akar kata shanah = berubah, berbeda)
· וְאַתֶּ֥ם בְּנֵֽי־יַעֲקֹ֖ב (ve'atem bnei Ya'akov) = "dan kamu, anak-anak Yakub"
· לֹ֥א כְלִיתֶֽם (lo chlitim) = "kamu tidak habis lenyap" (dari akar kalah = habis, binasa)

Ayat ini sering dikaitkan dengan Yesaya 43:13 karena keduanya menekankan ketidakberubahan dan kekekalan Allah. Di Maleakhi, keteguhan Allah menjadi alasan mengapa Israel tidak dimusnahkan meskipun mereka berdosa. Di Yesaya, ketidakmampuan siapa pun untuk menggagalkan tindakan Allah menunjukkan kedaulatan mutlak-Nya.

---

Perjanjian Baru yang eksplisit becoming (tentang Yesus)

5. Yohanes 1:14

"Firman itu telah menjadi manusia."

Kata Yunani: ἐγένετο (egeneto) — aorist dari ginomai (menjadi, terjadi).

· Ini becoming yang paling eksplisit: (Yoh 1:1) menjadi daging.

6. Filipi 2:7

"Melainkan telah mengosongkan diri-Nya... dan menjadi sama dengan manusia."

Kata γενόμενος (genomenos) — partisip aorist dari ginomai.

---

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LTTI 2.0 Logika Trinitas Transenden Imanen - 3

LTTI 2.0 Logika Trinitas Transenden Imanen - 1

Eksegesis Intra Pentateukh Kel 3:14-15, 7:1