Penginjilan Melalui Penyerahan Diri - 7
Penginjilan Melalui Penyerahan Diri - 7
Mari kita lihat bagaimana Alkitab secara khusus menarasikan seorang penatua yang hidup di dalam pertanyaan sambil berpegang pada Sang Jawaban—dan kita akan melihat bahwa narasi Maria adalah illustrasi terindah dari prinsip ini.
---
Narasi Alkitab tentang Hidup di Dalam Pertanyaan
Alkitab tidak menyembunyikan kegelisahan, kebingungan, atau pertanyaan-pertanyaan besar dari orang-orang benar. Justru di sanalah iman sejati teruji.
1. Abraham: "Bagaimana mungkin?" (Kejadian 15:8)
"Ya Tuhan ALLAH, dari manakah aku tahu, bahwa aku akan memilikinya?"
Abraham menerima janji keturunan, tetapi ia tidak mengerti bagaimana caranya. Ia hidup puluhan tahun dengan pertanyaan itu, namun ia tetap berpegang pada Tuhan yang memberi janji. Ia tidak mendapatkan semua jawaban, tetapi ia mendapatkan Anak perjanjian—Ishak, yang adalah bayangan dari Sang Jawaban sejati.
2. Musa: "Siapakah aku?" (Keluaran 3:11)
"Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?"
Musa dipanggil untuk tugas besar, tetapi ia dipenuhi keraguan tentang dirinya sendiri. Tuhan tidak menghilangkan semua ketidakpastian Musa sekaligus. Ia memberikan janji penyertaan: "Aku akan menyertai engkau." Musa belajar bahwa pertanyaan tentang kelayakan dirinya tidak perlu dijawab tuntas, karena kehadiran Tuhan adalah jawabannya.
3. Habakuk: "Mengapa Engkau membiarkan?" (Habakuk 1:3)
"Mengapa Engkau biarkan aku melihat kejahatan? Mengapa Engkau pandangi kelaliman?"
Habakuk berterus terang dengan pertanyaannya yang paling sulit kepada Tuhan. Dan Tuhan tidak menghardiknya. Tuhan menjawab dengan berkata, "Orang benar akan hidup oleh iman" (Habakuk 2:4). Artinya: engkau tidak perlu memiliki semua jawaban tentang kejahatan; yang kau perlukan adalah tetap berpegang pada-Ku.
---
Maria: Puncak Narasi tentang Hidup di Dalam Pertanyaan
Maria adalah penggenapan hidup dari semua narasi ini. Tidak ada tokoh Perjanjian Baru yang lebih konsisten digambarkan sedang "hidup di dalam pertanyaan" selain dirinya.
Pertanyaan Pertama: "Bagaimana mungkin?" (Lukas 1:34)
"Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?"
Ini adalah pertanyaan yang jujur, bukan keraguan yang memberontak. Malaikat tidak menghakiminya karena bertanya. Sebaliknya, malaikat memberikan penjelasan tentang kuasa Roh Kudus. Namun—dan ini penting—Maria tidak mendapatkan jawaban untuk semua pertanyaan praktisnya: Apa kata Yusuf? Apa kata kampung halamanku? Bagaimana aku akan membesarkan Anak Allah? Ia tetap hidup dengan pertanyaan-pertanyaan itu, tetapi ia berkata: "Jadilah padaku menurut perkataanmu."
Ia berpegang pada Sang Jawaban (Allah yang berfirman), bukan pada kejelasan situasi.
Pertanyaan Kedua: "Mengapa Engkau berbuat demikian kepada kami?" (Lukas 2:48)
"Anakku, mengapa Engkau berbuat demikian kepada kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau."
Setelah tiga hari mencari Yesus yang hilang, Maria menemukan-Nya di Bait Allah. Dan jawaban Yesus: "Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?"
Lukas mencatat dengan jujur: "Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka" (Lukas 2:50).
Maria, Sang Penatua, tidak mengerti. Ia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan pada saat itu. Tetapi ia melakukan apa yang dilakukan seorang penatua yang hidup di dalam pertanyaan: "Namun ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya" (Lukas 2:51).
Ia tidak memaksa jawaban. Ia tidak meninggalkan Yesus karena bingung. Ia menyimpan pertanyaan itu, merenungkannya, dan tetap berpegang pada Dia yang adalah Jawaban—meskipun jawaban-Nya saat itu terasa asing.
Pertanyaan Ketiga (Yang Tak Diucapkan): "Mengapa harus salib?"
Di bawah kayu salib, Maria tidak mengucapkan pertanyaan apa pun. Alkitab tidak mencatat sepatah kata pun dari mulutnya di Golgota.
Diamnya ini adalah bentuk tertinggi dari "hidup di dalam pertanyaan." Pertanyaan-pertanyaan yang paling menyakitkan—Mengapa Putraku harus mati? Mengapa jalan ini? Mengapa sekarang, ketika aku sudah tua?—tidak diucapkan, tetapi pasti bergemuruh di dalam hatinya.
Namun ia berdiri. Ia tetap berpegang pada Dia yang tergantung di kayu itu, yang meskipun kelihatan kalah, adalah Sang Jawaban bagi seluruh dunia. Ia tidak memerlukan penjelasan teologis tentang penebusan pada saat itu. Ia hanya perlu tetap setia hadir bersama Putranya.
---
Apa yang Diajarkan Maria kepada Para Penatua Gereja
Dari narasi hidup Maria, seorang penatua belajar bahwa:
Bukan Tugas Penatua
- Tugas Penatua
Memiliki jawaban untuk semua pertanyaan jemaat
- Menemani jemaat hidup di dalam pertanyaan-pertanyaan mereka
Menghilangkan semua keraguan dan kebingungan
- Menjadi teladan keteguhan di tengah ketidakpastian
Menjelaskan semua misteri Allah
- Merenungkan misteri itu bersama, sambil tetap percaya
Memastikan segala sesuatu berjalan sesuai rencana manusia
- Berdiri setia ketika rencana Allah terasa menyakitkan dan membingungkan
Maria tidak pernah berkata, "Aku tahu persis mengapa ini terjadi." Ia berkata, "Lakukanlah apa yang dikatakan-Nya kepadamu."
Ia tidak menawarkan teodise (pembelaan atas kejahatan dan penderitaan). Ia menawarkan kehadiran dan kesetiaan.
---
Penutup: Sang Penatua yang Merenungkan
Dalam tradisi ikonografi Timur, Maria sering digambarkan sebagai Theotokos (Bunda Allah) dengan tangan terangkat dalam doa—sebuah postur yang menunjukkan bahwa ia terus mempersembahkan pertanyaan-pertanyaan dunia kepada Putranya.
Para penatua Gereja dipanggil untuk menjadi seperti itu: bukan para penjawab, tetapi para perenung yang setia. Mereka adalah orang-orang yang cukup rendah hati untuk mengatakan, "Aku tidak tahu," dan cukup teguh untuk mengatakan, "Tetapi aku tahu kepada siapa aku percaya" (2 Timotius 1:12).
Dan Maria, Sang Penatua Pertama, telah memodelkan hal ini sejak awal.
Ia menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya.
Ia berdiri di bawah salib.
Ia bertekun dalam doa di Ruang Atas.
Ia tidak memiliki semua jawaban.
Ia memiliki Dia yang adalah Jawaban.
Dan itu sudah cukup.
Komentar
Posting Komentar