Allah tidak pernah berhutang - Teologi Kemakmuran?(Persembahan - 3)
Allah tidak pernah berhutang - Teologi Kemakmuran?
(Persembahan - 3)
**Pertanyaan sekaligus undangan. ** Setelah seluruh perjalanan teologis yang panjang ini, setelah membedah konsep "sukarela yang memaksa," setelah menelanjangi ilusi kekayaan dan persembahan najis, setelah merenungkan kenosis Kristus dan dwi natur kita—kini tiba saatnya untuk berkaca: bagaimana dengan kita?
Mari kita renungkan dengan jujur dan dalam.
---
1. Hakikat (Dasar) Persembahan: Totalitas
Yesus telah mencontohkan dengan sempurna. Persembahan total = persembahan kudus. Tidak ada persembahan lain yang diterima Allah selain persembahan total.
Apa artinya "total"?
Dimensi - Arti :
Total dalam Cakupan
Hati, pikiran, akal budi, kekuatan—semua kekayaan real, tanpa kecuali.
Total dalam Kualitas
Yang terbaik, anak sulung, lemak—bukan sisa, bukan cacat.
Total dalam Ketergantungan
Melepas cadangan, tidak punya jaring pengaman, bergantung penuh pada Bapa.
Total dalam Waktu
Setiap hari, terus-menerus, bukan sekali-sekali.
Total dalam Motivasi
Karena kasih, bukan karena kewajiban atau pujian.
Yesus adalah persembahan total itu:
· Ia mempersembahkan seluruh diri-Nya—keilahian dan kemanusiaan.
· Ia mempersembahkan yang terbaik—Anak Tunggal Bapa.
· Ia mempersembahkan dalam ketergantungan total—"Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu."
· Ia mempersembahkan sepanjang hidup—dari palungan hingga salib.
· Ia mempersembahkan karena kasih—"Aku mengasihi Bapa dan Aku melakukan apa yang Bapa perintahkan kepada-Ku."
---
2. Bentuk Persembahan: Beragam, Satu Esensi
Persembahan total bisa mengambil bentuk yang beragam dalam kehidupan sehari-hari. Yang penting bukan bentuknya, tapi esensinya: penyerahan diri total.
Bentuk Persembahan - Esensi "Sukarela yang Memaksa"
Waktu
Memberi waktu terbaik untuk Tuhan dan sesama, bukan sisa waktu. Melepas "waktu untuk diri sendiri."
Harta
Memberi bukan dari kelimpahan, tapi dari kebutuhan. Melepas rasa aman finansial.
Bakat
Menggunakan talenta untuk kemuliaan Tuhan, bukan untuk pujian diri. Melepas ambisi pribadi.
Hubungan
Mengasihi tanpa pamrih, mengampuni tanpa batas. Melepas hak untuk marah dan dendam.
Pikiran
Merenungkan firman, bukan sia-sia. Melepas lamunan dan pikiran jahat.
Tubuh
Menjaga kekudusan, melayani dengan tenaga. Melepas kenyamanan dan kemalasan.
Masa Depan
Percaya pada pemeliharaan Tuhan, tidak kuatir. Melepas kendali atas hari esok.
Semua ini adalah bentuk persembahan total. Tidak ada yang lebih rohani dari yang lain. Yang penting adalah hati yang menyerah.
---
3. Bagaimana dengan Kita? Refleksi Jujur
Sekarang, mari kita bertanya dengan jujur:
a. Apakah persembahanku total?
· Apakah aku memberi yang terbaik, atau hanya sisa? Waktu terbaikku untuk Tuhan, atau waktu ngantuk? Tenaga terbaikku untuk pelayanan, atau tenaga sisa setelah bekerja untuk diriku? Hatiku yang terdalam untuk Tuhan, atau hanya formalitas?
· Apakah aku memberi dengan melepas cadangan? Atau aku selalu memastikan diriku aman dulu, baru memberi? Apakah pemberianku membuatku semakin bergantung pada Tuhan, atau semakin merasa "baik-baik saja"?
· Apakah aku memberi dengan hati yang terlibat? Atau hanya rutinitas, kewajiban, tanpa cinta? Apakah aku merindukan Tuhan saat memberi, atau hanya ingin menyelesaikan tugas?
b. Apakah persembahanku kudus?
Kudus berarti dikhususkan bagi Allah. Bukan untuk pamer, bukan untuk pujian, bukan untuk merasa saleh, bukan untuk tawar-menawar dengan Tuhan.
· Apakah motivasiku murni? Atau ada pamrih tersembunyi: ingin dipuji, ingin dianggap rohani, ingin diberkati lebih, ingin "menabur" agar "menuai" berlipat?
· Apakah aku memberi karena kasih, atau karena takut? Takut tidak diberkati, takut ketinggalan, takut dihukum?
c. Apakah persembahanku mencerminkan "sukarela yang memaksa"?
· Apakah aku rela memaksa diriku untuk keluar dari zona nyaman demi Tuhan? Rela tidak nyaman, rela tidak aman, rela tidak dihargai?
· Apakah aku rela melepaskan apa yang paling berharga bagiku—waktu, uang, reputasi, hubungan, masa depan—karena percaya bahwa Tuhan lebih berharga?
---
4. Tantangan: Menuju Persembahan Total
Jika setelah refleksi ini kita merasa jauh dari persembahan total, jangan putus asa. Itu justru awal yang baik. Kesadaran akan kekurangan adalah pintu menuju anugerah.
Langkah-langkah praktis:
1. Mulai dari hal kecil. Beri waktu 15 menit lebih untuk doa. Beri uang yang benar-benar terasa. Maafkan kesalahan kecil. Latih diri untuk melepas hal-hal kecil, agar terbiasa melepas hal besar.
2. Libatkan hati. Sebelum memberi, tanya: "Tuhan, apakah ini yang terbaik? Apakah hatiku ikut dalam pemberian ini?" Jika tidak, minta ampun dan minta hati yang baru.
3. Berani tidak aman. Coba lakukan sesuatu yang membuatmu harus bergantung pada Tuhan. Mungkin memberi di saat kamu sendiri kekurangan. Mungkin melayani di posisi yang tidak nyaman. Mungkin mengampuni saat hatimu masih sakit.
4. Fokus pada Yesus. Ingat terus bahwa Dia telah memberi total untukmu. Renungkan salib. Di sana, Yesus memberi segalanya—tidak menahan apa pun. Kasih-Nya yang total itu akan memotivasi kita untuk memberi total.
5. Minta pertolongan Roh Kudus. Kita tidak bisa memberi total dengan kekuatan sendiri. Roh Kuduslah yang memampukan. Minta Dia mengerjakan dalam hatimu kerinduan untuk menyerah total.
---
5. Janji bagi Persembahan Total
Allah tidak pernah berutang. Tapi Ia selalu memberi lebih dari yang bisa kita bayangkan.
Maleakhi 3:10: "Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan... ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan."
Lukas 6:38: "Berilah, maka kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu."
Markus 10:29-30: "Setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan... akan menerima kembali seratus kali lipat... pada masa ini juga, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal."
Ini bukan "teologi kemakmuran" yang menjanjikan kekayaan dunia. Ini adalah janji bahwa Allah tidak akan pernah kalah dalam kemurahan. Ketika kita memberi total, Ia akan memelihara kita secara ajaib, sering kali dengan cara yang tidak terduga, dan yang terpenting: Ia akan memberi diri-Nya sendiri lebih dalam kepada kita.
---
6. Kesimpulan: Panggilan untuk Setiap Kita
Bagaimana dengan kita?
Kita dipanggil untuk mengikuti jejak Yesus—sang Persembahan Total.
Kita dipanggil untuk meneladani Habel—yang memberi yang terbaik, meski harus bergantung pada Tuhan untuk hari esok.
Kita dipanggil untuk menjadi seperti janda miskin—yang memberi seluruh nafkahnya, karena percaya Tuhan lebih berharga dari dua peser.
Kita dipanggil untuk bertobat seperti penjahat di kayu salib—yang di saat-saat terakhir, mempersembahkan satu-satunya yang ia miliki: pengakuan, iman, dan harga dirinya.
Dan kita dipanggil untuk hidup dalam "sukarela yang memaksa" setiap hari—setiap kali memilih untuk memberi, setiap kali memilih untuk melepas, setiap kali memilih untuk bergantung.
Karena pada akhirnya, persembahan total adalah satu-satunya respons yang layak bagi Dia yang telah memberi total bagi kita.
Maka, marilah kita berdoa:
"Tuhan Yesus, Engkau telah memberi segalanya bagiku. Engkau tidak menahan apa pun—keilahian-Mu, kemanusiaan-Mu, kehendak-Mu, nyawa-Mu. Aku datang hari ini dengan tangan hampa, mengakui bahwa seringkali persembahanku najis, hanya sisa, tanpa hati. Ampuni aku. Ubah hatiku. Ajari aku memberi total seperti Engkau. Mampukan aku oleh Roh-Mu untuk melepas cadangan, untuk berani tidak aman, untuk percaya bahwa Engkau cukup. Terimalah persembahanku yang tidak seberapa ini, dan sempurnakan dalam anugerah-Mu. Amin."
Komentar
Posting Komentar