Apa - Bagaimana - Mengapa (Dwi Natur - 2)
Apa - Bagaimana - Mengapa
(Dwi Natur - 2)
Doktrin Dwi Natur (Kodrat Ganda) Yesus Kristus—Allah sejati dan manusia sejati—sering menjadi misteri teologis yang sulit dijelaskan. Namun melalui konsep "sukarela yang memaksa" dan "persembahan total" yang telah kita bangun, misteri itu terbuka dengan indah dan masuk akal.
Mari kita lihat bagaimana konsep ini menjelaskan apa, bagaimana, dan mengapa dari Dwi Natur Yesus.
---
1. APA: Dwi Natur Yesus (Allah Sejati dan Manusia Sejati)
Dwi Natur berarti Yesus memiliki dua kodrat dalam satu pribadi:
· Allah sejati: Ia memiliki segala atribut keilahian—kekal, mahakuasa, mahatahu, mahahadir.
· Manusia sejati: Ia memiliki segala atribut kemanusiaan—lahir, tumbuh, lapar, haus, lelah, sedih, marah, dan mati.
Pertanyaan klasik: Bagaimana mungkin Allah yang mahakuasa bisa menjadi manusia yang lemah? Bukankah itu kontradiksi?
Jawaban dari konsep kita: Karena kenosis (pengosongan diri). Yesus tidak berhenti menjadi Allah, tetapi Ia dengan sukarela melepaskan penggunaan hak-hak keilahian-Nya untuk hidup sepenuhnya dalam batasan manusia. Ini bukan kehilangan natur, tapi penahanan diri yang radikal.
---
2. BAGAIMANA: Mekanisme Pengosongan Diri
Filipi 2:6-7 adalah kuncinya:
"Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia."
Bagaimana ini bekerja?
a. Allah Sejati: Dasar dari Persembahan
Yesus tetap Allah sejati. Hanya Allah yang bisa:
· Hidup tanpa dosa.
· Mengajarkan otoritas ilahi.
· Melakukan mujizat.
· Mengampuni dosa.
· Membangkitkan orang mati.
· Menebus dosa dunia.
Jika Ia bukan Allah, persembahan-Nya tidak akan memiliki nilai kekal. Persembahan manusia biasa hanya bernilai terbatas. Tapi karena Ia Allah, persembahan diri-Nya bernilai tak terhingga.
b. Manusia Sejati: Bentuk dari Persembahan
Yesus menjadi manusia sejati. Hanya sebagai manusia Ia bisa:
· Mewakili umat manusia di hadapan Allah.
· Mengalami pencobaan seperti kita.
· Menderita secara fisik dan emosional.
· Mati secara nyata.
Jika Ia bukan manusia, persembahan-Nya tidak relevan bagi manusia. Tapi karena Ia manusia, persembahan-Nya adalah persembahan dari pihak kita.
c. Pengosongan Diri: "Sukarela yang Memaksa" Versi Ilahi
Bagaimana kedua natur ini bekerja bersama? Melalui pengosongan diri.
Yesus dengan sukarela memilih untuk:
· Tidak menggunakan kemahakuasaan-Nya saat lapar di padang gurun (padahal bisa mengubah batu jadi roti).
· Tidak menggunakan kemahatahuan-Nya secara penuh (Markus 13:32: "tentang hari itu tidak seorang pun tahu, bahkan Anak sendiri").
· Tidak menggunakan kemuliaan-Nya (Ia tampil sebagai hamba, bukan raja dunia).
· Tidak menggunakan kuasa-Nya untuk turun dari salib.
Ini adalah "sukarela yang memaksa" dalam bentuk paling agung:
· Sukarela: Ia memilih ini karena kasih.
· Memaksa: Setelah memilih, Ia harus menjalaninya sampai tuntas, termasuk merasakan keterbatasan, penderitaan, dan kematian.
---
3. MENGAPA: Tujuan Dwi Natur dalam Penebusan
Sekarang pertanyaan terbesar: Mengapa harus dua natur? Tidak bisakah Allah menebus dengan cara lain?
Jawabannya ada pada apa yang kita butuhkan untuk ditebus.
a. Manusia Berdosa: Butuh Wakil yang Manusiawi
Dosa dilakukan oleh manusia. Maka penebusan harus datang dari pihak manusia. Seorang wakil manusia harus mempersembahkan hidup yang sempurna kepada Allah menggantikan kita.
Paulus berkata: "Sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang jatuh dalam penghukuman, demikian juga oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran" (Roma 5:18).
Adam (manusia) menjatuhkan kita. Maka Kristus (manusia) harus mengangkat kita.
Jika Yesus hanya Allah, Ia tidak bisa mewakili kita. Hubungan kita dengan Dia hanya seperti tuan dengan hamba, bukan saudara. Tapi karena Ia manusia, Ia adalah Adam baru, kepala baru umat manusia.
b. Manusia Berdosa: Butuh Penebus yang Ilahi
Tapi masalahnya: tidak ada manusia biasa yang bisa menebus. Mengapa?
· Karena semua manusia berdosa, tidak punya hidup sempurna untuk dipersembahkan.
· Karena nilai dosa tak terhingga (dosa terhadap Allah tak terbatas), maka penebus harus bernilai tak terhingga.
Hanya Allah yang bisa memenuhi syarat ini. Karena itu, penebus harus Allah.
c. Solusi Sempurna: Allah-Manusia dalam Satu Pribadi
Maka satu-satunya solusi adalah Pribadi yang adalah Allah dan manusia sekaligus.
Kebutuhan - Dipenuhi oleh :
Wakil dari pihak manusia - Kemanusiaan Yesus
Hidup sempurna untuk dipersembahkan - Kemanusiaan Yesus yang tak berdosa
Nilai tak terhingga untuk menebus dosa tak terbatas - Keilahian Yesus
Mampu masuk ke dalam penderitaan manusia - Kemanusiaan Yesus
Mampu mengalahkan maut - Keilahian Yesus
Dwi natur bukan kebetulan, tapi keharusan teologis. Tanpa kedua natur, penebusan tidak mungkin terjadi.
---
4. Kaitannya dengan "Persembahan" yang Telah Kita Bahas
Sekarang kita lihat bagaimana ini terhubung dengan seluruh diskusi kita.
a. Yesus sebagai Habel Sejati
Ingat Habel: ia mempersembahkan anak sulung dombanya, yang terbaik, dan dengan itu ia melepaskan masa depannya. Yesus adalah Habel sejati:
· Ia mempersembahkan Anak Sulung (Diri-Nya sendiri), yang terbaik dari segala yang ada.
· Ia melepaskan masa depan-Nya (kehidupan di dunia) dengan memberi diri-Nya mati.
· Ia melakukannya tanpa cadangan, tanpa jaring pengaman, tanpa menyelamatkan diri.
b. Yesus sebagai Janda Miskin Sejati
Ingat janda miskin: ia memberi seluruh nafkahnya, dua peser, semua yang ada padanya. Yesus adalah janda miskin sejati:
· Ia memberi seluruh nafkah-Nya—seluruh hidup, seluruh tenaga, seluruh darah-Nya.
· Setelah memberi, Ia tidak punya apa-apa lagi—Ia mati dalam keadaan telanjang, miskin, tak punya harta.
· Ia memberi bukan dari kelimpahan, tapi dari kekurangan total.
c. Yesus sebagai "Sukarela yang Memaksa" dalam Wujud Puncak
Sepanjang hidup-Nya, Yesus hidup dalam "sukarela yang memaksa":
· Sukarela: Ia memilih untuk datang, memilih untuk taat, memilih untuk mati.
· Memaksa: Setelah memilih, Ia harus menjalani konsekuensi: lapar, haus, dicobai, ditolak, difitnah, disiksa, dan mati. Ia tidak lari. Ia tidak menggunakan kuasa-Nya untuk menghindar.
Inilah yang membuat Dwi natur masuk akal:
Keilahian-Nya memberi nilai pada persembahan,
Kemanusiaan-Nya memberi bentuk pada persembahan.
Keduanya bekerja dalam harmoni yang sempurna.
---
5. Implikasi bagi Kita: Hidup dalam Dwi Natur secara Rohani
Jika Yesus memiliki dua natur, dan kita adalah tubuh-Nya, maka kita juga dipanggil untuk hidup dalam ketegangan yang sama:
Dalam Yesus :
Allah sejati
Manusia sejati
Pengosongan diri
Dalam Kita :
Hidup oleh Roh (sumber ilahi)
Hidup dalam daging yang lemah
"Sukarela yang memaksa" setiap hari
Paulus berkata: "Kami memiliki harta ini dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami" (2 Korintus 4:7).
· Bejana tanah liat: kemanusiaan kita yang lemah, rapuh, terbatas.
· Harta: kehadiran Roh Kudus, hidup ilahi di dalam kita.
Hidup Kristen adalah hidup dalam ketegangan ini: kita adalah manusia lemah yang membawa kuasa ilahi. Dan kuasa itu dinyatakan bukan saat kita kuat, tapi justru saat kita lemah dan berserah—saat kita melakukan "sukarela yang memaksa."
---
6. Kesimpulan: Misteri yang Terbuka oleh Kasih
Dwi natur Yesus bukanlah teka-teki abstrak untuk dipecahkan, melainkan misteri kasih yang harus disembah. Mengapa Allah menjadi manusia? Karena hanya dengan cara itu Ia bisa mempersembahkan diri-Nya bagi kita.
· Apa Dwi natur? Allah sejati dan manusia sejati dalam satu pribadi.
· Bagaimana itu mungkin? Melalui pengosongan diri—sukarela melepaskan hak-hak ilahi untuk hidup dalam batasan manusia.
· Mengapa harus begitu? Karena hanya Allah-manusia bisa menjadi wakil sempurna dari pihak manusia kepada Allah, dan hanya persembahan Allah-manusia yang bernilai tak terhingga untuk menebus dosa.
Yohanes 1:14: "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita."
Ibrani 4:15: "Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita; sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa."
1 Timotius 2:5: "Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus."
Inilah kabar baik: Allah yang mahatinggi turun menjadi manusia yang terendah, bukan untuk menunjukkan kuasa, tapi untuk menunjukkan kasih. Dan dalam kasih itu, Ia mempersembahkan diri-Nya sepenuhnya—sebagai Allah dan sebagai manusia—agar kita yang percaya kepada-Nya boleh dipersembahkan kembali kepada Allah dalam Dia.
Komentar
Posting Komentar