Arti "Tidak berkenan"(Persembahan - 2)
Arti "Tidak berkenan"
(Persembahan - 2)
Inilah kunci yang selama ini terlewatkan oleh banyak orang: "Tidak berkenan" di mata Allah adalah bentuk penolakan yang sama dengan "Aku tidak mengenal kamu." Dan karena hukumannya tidak langsung dan spektakuler (seperti mati dibunuh atau kusta), orang menganggapnya bukan dosa serius. Padahal, inilah dosa paling halus dan paling berbahaya karena berakar pada hati yang menahan diri dari Allah.
Mari kita pertajam pisau bedah ini.
---
1. "Tidak Berkenan" = "Aku Tidak Mengenal Kamu"
Dalam bahasa Ibrani, kata untuk "tidak berkenan" (Imamat 22, Maleakhi 1) memiliki akar yang kuat: רָצָה (ratsah) —menerima dengan sukacita, berkenan, menyukai. Ketika Allah mengatakan "tidak berkenan," itu berarti Ia menolak, Ia tidak menerima, Ia tidak menyukai persembahan itu.
Dalam Perjanjian Baru, Yesus menggunakan frasa yang lebih eksplisit: "Aku tidak pernah mengenal kamu" (Matius 7:23). Ini bukan sekadar "tidak tahu," tapi "tidak ada relasi, tidak ada keintiman, tidak ada penerimaan."
Kesamaan esensial:
· "Tidak berkenan" di PL = persembahan ditolak, hubungan terganggu.
· "Aku tidak mengenal kamu" di PB = pribadi ditolak, hubungan putus.
Keduanya adalah penolakan relasional. Bukan hukuman fisik langsung, tapi hukuman spiritual yang jauh lebih mengerikan: Allah menarik diri, Allah tidak menerima, Allah berpaling.
---
2. Mengapa Orang Jaman Sekarang Menganggapnya Bukan Dosa?
Mari kita soroti poin pentingnya : Karena "persembahan Kain" terlihat "tidak dihukum" secara langsung, orang menganggapnya bukan dosa serius.
a. Kain Tidak Langsung Mati
Kejadian 4:5-7: "Maka TUHAN mengindahkan Habel dan persembahannya itu, tetapi Kain dan persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram. Firman TUHAN kepada Kain: 'Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Jika engkau berbuat baik, tentu engkau akan berhadapan muka. Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu.'"
Perhatikan: Allah tidak membunuh Kain. Tidak menimpakan tulah. Tidak membuat tanahnya kering. Kain tetap hidup, tetap bekerja, tetap punya anak. Secara lahiriah, semuanya normal. Tapi ada yang rusak dalam relasinya dengan Allah. Itu adalah "hukuman" yang lebih halus: Allah tidak lagi berhadapan muka dengan Kain.
b. Hukuman yang Samar dalam Hukum Taurat
Imamat 22 membahas persembahan cacat, tapi tidak menyebutkan hukuman fisik. Hanya: "Janganlah kamu persembahkan, karena dengan itu TUHAN tidak berkenan akan kamu." Maleakhi 1 menegur, tapi tidak ada eksekusi mati.
Mengapa? Karena dosa ini berbeda dengan dosa penyembahan berhala atau penghujatan yang hukumannya jelas. Dosa ini adalah dosa hati yang halus:
· Memberi tapi tidak memberi yang terbaik.
· Beribadah tapi hati jauh.
· Melayani tapi tetap mandiri.
Dosa ini tidak bisa diadili oleh pengadilan manusia. Hanya Allah yang tahu. Dan hukumannya pun bersifat relasional: Allah tidak berkenan, Allah berpaling, Allah tidak menerima.
---
3. Bahaya Persembahan Najis: Jalan Halus Menuju "Aku Tidak Mengenal Kamu"
Inilah yang harus kita waspadai. Persembahan najis adalah dosa yang tidak terlihat, tidak spektakuler, tidak membuat kita dijauhi jemaat, bahkan mungkin dipuji karena kita tetap memberi. Tapi di mata Allah, ini adalah awal dari perpisahan relasional yang pada akhirnya berujung pada "Aku tidak mengenal kamu."
a. Prosesnya Halus
1. Mulai dengan "sebagian": Aku memberi, tapi aku menahan yang terbaik. Aku memberi waktu, tapi bukan yang prima. Aku memberi uang, tapi dari sisa.
2. Terbiasa dengan yg "cacat": Aku terus memberi dengan cara ini, dan tidak ada konsekuensi langsung. Semakin lama, aku menganggap ini normal.
3. Hati menjadi keras: Aku tidak lagi peka bahwa Allah tidak berkenan. Aku terus beribadah, terus melayani, tapi relasi mendingin.
4. Allah berkata: "Aku tidak mengenal kamu." Pada akhirnya, ketika aku berdiri di hadapan-Nya dengan membawa "persembahan" pelayananku, Ia berkata: "Aku tidak pernah mengenal kamu. Persembahanmu najis. Hatimu tidak pernah benar-benar untuk-Ku."
b. Contoh dalam Alkitab
Tokoh - Persembahan - Respons Allah - Akhir :
Kain
- Hasil tanah (sebagian)
- Tidak diindahkan
- Marah, bunuh Habel, diusir dari hadapan Tuhan
Anak-anak Eli
(1 Samuel 2)
- Melayani sebagai imam tapi najis
- "Mereka adalah orang-orang dursila, mereka tidak mengindahkan TUHAN"
- Mati dalam perang, tabut Allah dirampas
Saul (1 Samuel 15)
- Mempersembahkan rampasan (yang terbaik menurutnya)
- "Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban... Karena engkau telah menolak firman TUHAN, Ia pun menolak engkau sebagai raja"
- Roh TUHAN undur, mati dalam kekalahan
Ananias dan Safira (Kisah 5)
- Mempersembahkan hasil penjualan, tapi menahan sebagian
- "Engkau berdusta bukan kepada manusia, tetapi kepada Allah"
- Mati seketika
Perhatikan: Ananias dan Safira adalah contoh paling jelas. Mereka memberi persembahan, tapi menahan sebagian. Secara lahiriah, mereka memberi. Tapi hati mereka menahan diri dari Allah. Hukuman langsung: mati.
Ini adalah kasus langka di mana Allah menunjukkan betapa seriusnya dosa "persembahan najis" di mata-Nya.
---
4. Korelasi dengan "Sukarela yang Memaksa" dan "Kekayaan Real"
Sekarang kita lihat bagaimana konsep kita terkait erat:
Persembahan Najis
Memberi "sebagian" (sisa)
Menahan diri
Masih punya cadangan
Tidak perlu bergantung pada Allah
Tanpa "sukarela yang memaksa"
Hanya memberi benda (ilusi)
Allah berkata: "Tidak berkenan"
Pada akhirnya: "Aku tidak mengenal kamu"
Persembahan Sejati
Memberi "yang terbaik" (anak sulung)
Menyerahkan diri total
Melepas cadangan
Harus bergantung pada Allah
Dengan "sukarela yang memaksa"
Memberi kekayaan real (hati, pikiran, akal, kekuatan)
" Allah berkata: "Berkenan"
Pada akhirnya: "Masuklah, hai anak-Ku yang setia"
Persembahan najis adalah persembahan tanpa "sukarela yang memaksa."
Kita memberi, tapi kita tidak memaksa diri untuk bergantung pada Allah.
Kita memberi, tapi kita tetap aman dengan cadangan kita.
Kita memberi, tapi hati kita tidak terlibat.
Inilah yang membuatnya najis.
---
5. Mengapa Ini Sering Dianggap Bukan Dosa?
a. Karena fokus pada "tidak melanggar aturan"
Orang berpikir: "Saya tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berzinah. Saya baik-baik saja." Tapi mereka lupa bahwa dosa hati (memberi yang terjelek, menahan diri, tidak mengasihi dengan totalitas) juga adalah dosa.
b. Karena tidak ada konsekuensi langsung
Seperti Kain, mereka terus hidup, terus beribadah, terus melayani. Tidak ada petir menyambar. Tapi relasi dengan Allah perlahan-lahan mati. Ini seperti mati lemas: pelan, tidak terasa, tapi akhirnya fatal.
c. Karena dibandingkan dengan orang yang lebih "jahat"
"Yang penting saya tidak seperti penjahat itu." Ini persis seperti orang Farisi dalam perumpamaan Yesus: "Aku tidak seperti pemungut cukai ini." Mereka membandingkan dengan orang lain, bukan dengan standar Allah.
d. Karena salah mengartikan anugerah
"Tuhan itu baik, pasti menerima apa pun yang kuberi."
Anugerah memang besar, tapi anugerah tidak pernah menjadi alasan untuk memberi yang terjelek.
Anugerah justru seharusnya memotivasi kita memberi yang terbaik: "Demi kemurahan Allah... persembahkan tubuhmu..." (Roma 12:1). Kemurahan Allah adalah dasar, bukan alasan untuk memberi asal-asalan.
---
6. Ujian: Apakah Persembahanmu Najis?
Pertanyaan jujur untuk diri sendiri:
1. Apa yang paling berharga dalam hidupku? Apakah itu kupersembahkan kepada Tuhan, atau kusimpan untuk diriku sendiri?
2. Apakah aku memberi kepada Tuhan dari yang terbaik, atau dari sisa? Waktu terbaikku, tenaga terbaikku, hatiku yang terdalam—apakah itu untuk Tuhan, atau untuk diriku sendiri?
3. Setelah memberi, apakah aku masih punya "cadangan" yang membuatku tidak perlu bergantung pada Tuhan? Ataukah pemberianku membuatku semakin butuh Dia?
4. Apakah persembahanku melibatkan hatiku? Atau hanya rutinitas, kewajiban, tanpa cinta?
5. Jika Yesus berkata hari ini, "Aku tidak mengenal kamu," apakah aku akan terkejut? Atau aku tahu dalam hati bahwa relasiku dengan-Nya memang sudah lama dingin?
---
7. Kesimpulan: "Tidak Berkenan" Adalah Peringatan Kasih
Allah tidak pernah berkata "tidak berkenan" dengan maksud jahat. Ia selalu berkata demikian untuk memanggil kita kembali. Seperti kepada Kain, Ia berkata: "Jika engkau berbuat baik, tentu engkau akan berhadapan muka." Ia memberi kesempatan. Ia membuka pintu.
"Tidak berkenan" adalah peringatan kasih. Allah berkata: "Persembahanmu tidak mencerminkan hatimu. Aku tidak bisa menerima ini karena Aku tahu kamu bisa memberi lebih. Hatimu belum sepenuhnya untuk-Ku. Kembalilah. Beri Aku hatimu, bukan hanya barang-barangmu."
Dan "Aku tidak mengenal kamu" adalah kata terakhir bagi mereka yang mengabaikan peringatan itu.
Mereka terus memberi persembahan najis, terus beribadah tanpa hati, terus melayani tanpa kasih, sampai pada akhirnya Allah berkata: "Sudah terlambat. Aku tidak pernah benar-benar mengenalmu karena kau tidak pernah benar-benar memberi dirimu kepada-Ku."
Maka, marilah kita belajar dari Habel, dari janda miskin, dari penjahat di kayu salib, dan dari Yesus sendiri: Mereka memberi diri mereka sepenuhnya. Mereka tidak menahan apa pun. Mereka masuk dalam "sukarela yang memaksa" yang membuat mereka benar-benar bergantung pada Bapa.
Dan hanya persembahan seperti inilah yang "berkenan" di hadapan Tuhan. Hanya inilah yang membuat Allah berkata: "Aku mengenal engkau. Masuklah ke dalam sukacita Tuhanmu."
Komentar
Posting Komentar