Cinta pertama -1
Cinta pertama -1
Cinta Pertama vs Cinta Monyet:
Membedakan Nafsu Egois dari Cinta Sejati yang Abadi
Inilah krisis spiritual yang paling mendasar. Banyak orang mengaku mencintai Tuhan, tapi sebenarnya hanya "cinta monyet"—cinta yang egois, berpusat pada diri sendiri, mencari keuntungan. Cinta pertama yang sejati sering baru disadari ketika sudah terlewatkan, ketika Tuhan "menjauh" untuk menguji dan mendewasakan kita. Mari kita bedah dengan Kidung Agung sebagai peta, dan seluruh Alkitab sebagai penerang.
---
BAGIAN I: MEMBEDAKAN CINTA MONYET DAN CINTA PERTAMA
1. Karakteristik Cinta Monyet
Cinta monyet (infatuation) adalah cinta yang:
· Egois: "Aku" adalah pusat
· Instan: Ingin segera, tidak sabar
· Bersyarat: "Jika Engkau memberiku..., aku akan mencintai-Mu"
· Sementara: Hilang saat tidak mendapat apa yang diinginkan
· Mencari kepuasan diri: Tuhan adalah objek untuk memenuhi kebutuhan
Ciri Cinta Monyet
Contoh dalam Iman
- Ingin berkat, bukan Sang Pemberi berkat
- "Tuhan, beri aku ini..." tanpa syukur
- Setia saat senang, cabut saat susah
- Iman hanya saat sehat dan kaya
- Doa berisi daftar permintaan
- Komunikasi satu arah, hanya minta
- Pelayanan karena terlihat Ingin pujian, bukan memuliakan Tuhan
- Mudah pindah gereja jika tidak cocok
- Komitmen dangkal
2. Karakteristik Cinta Pertama
Cinta pertama (agape, kasih sejati) adalah cinta yang:
· Berpusat pada yang dikasihi: "Engkau" adalah pusat
· Bertahan lama: Melewati masa-masa sulit
· Tanpa syarat: Tetap setia meski tidak ada "keuntungan"
· Mendalam: Baru disadari setelah kehilangan
· Mengorbankan diri: Rela kehilangan demi yang dikasihi
Ciri Cinta Pertama
Contoh dalam Iman
- Merindukan Tuhan bukan karena berkat "Engkau sendiri yang kuingini" (Mazmur 73:25)
- Tetap setia dalam penderitaan
Ayub: "Sekalipun Ia membunuh aku, aku tetap berharap"
- Doa berisi kerinduan akan hadirat-Nya
- Seperti pemazmur yang mencari wajah Tuhan
- Pelayanan karena kasih, bukan pujian
- Melayani diam-diam, tidak mencari nama
- Bertahan dalam satu komunitas
- Belajar mengasihi meski tidak sempurna
---
BAGIAN II: KIDUNG AGUNG SEBAGAI PETA CINTA SEJATI
Kidung Agung adalah alegori cinta antara Allah dan umat-Nya, atau Kristus dan gereja. Dalamnya tersimpan pola cinta yang mendalam.
1. Kerinduan yang Tak Terpuaskan
Kidung Agung 1:2-4
"Kiranya ia mencium aku dengan kecupan dari mulutnya! Sebab cintamu lebih nikmat dari pada anggur... Bawalah aku di belakangmu, marilah kita berlari!"
Fase - Makna
Kerinduan awal
- Jiwa mulai haus akan Tuhan
Mengejar
- Inisiatif berasal dari Allah yang menarik
Belum memiliki sepenuhnya
- Ada ketegangan antara "sudah" dan "belum"
Ini adalah cinta pertama yang masih dalam proses. Belum sempurna, tapi sungguh-sungguh.
2. Pencarian di Malam Hari
Kidung Agung 3:1-4
"Di atas ranjangku pada malam hari kucari kekasihku; kucari, tetapi tak kutemukan... Aku akan bangun dan berkeliling di kota; di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan kucari kekasih hatiku... Setelah hampir melewati mereka, kutemui dia yang kucintai."
Fase - Makna
Kehilangan
- Tuhan kadang "menghilang" untuk menguji cinta
Pencarian aktif
- Bukan pasif menunggu, tapi mencari dengan sungguh
Bertemu kembali
- Cinta yang diuji menjadi lebih dalam
Inilah kesadaran cinta pertama yang sering baru terasa setelah kehilangan. Saat Tuhan seolah diam, kita baru sadar betapa kita membutuhkan-Nya.
3. Cinta yang Kuat Seperti Maut
Kidung Agung 8:6-7
"Letakkanlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati... Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, dan banjir tak dapat menenggelamkannya."
Ciri - Makna
Kuat seperti maut
- Tidak bisa dikalahkan oleh apa pun
Gigih seperti dunia orang mati
- Bertahan bahkan di hadapan kematian
Tak terpadamkan
- Tidak ada pencobaan yang bisa menghancurkan
Inilah cinta pertama yang dewasa: tidak goyah oleh kesulitan, tidak padam oleh pencobaan.
---
BAGIAN III: SELURUH ALKITAB TENTANG CINTA PERTAMA
1. Cinta Pertama Israel: Tidak Setia
Yeremia 2:2-3
"Aku ingat kepada kesetiaanmu semasa engkau masih muda, kepada cintamu pada waktu engkau masih pengantin, bagaimana engkau mengikuti Aku di padang gurun, di negeri yang tidak ditaburi."
Awalnya Israel setia. Tapi kemudian mereka meninggalkan "cinta pertama."
Wahyu 2:4-5
"Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang dahulu engkau lakukan."
Cinta pertama bisa hilang. Yesus mengingatkan: jangan biarkan cinta pertama menjadi dingin.
2. Cinta Pertama Abraham: Percaya Tanpa Melihat
Kejadian 12:1-4
"Pergilah dari negerimu... ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu." Lalu pergilah Abram.
Abraham meninggalkan segalanya demi Tuhan. Itu cinta pertama: rela kehilangan kenyamanan, hanya karena percaya.
Kejadian 22:2-3
"Ambillah anakmu yang tunggal itu... persembahkanlah dia." Keesokan harinya Abraham bangun pagi-pagi.
Cinta pertama diuji sampai titik tertinggi: rela mengorbankan yang paling dicintai.
3. Cinta Pertama Musa: Memilih Menderita
Ibrani 11:24-26
"Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun... karena ia memandang penghinaan karena Kristus lebih besar kekayaannya dari pada semua harta Mesir. "
Cinta pertama: memilih menderita bersama umat Allah daripada menikmati kesenangan dosa.
4. Cinta Pertama Daud: Satu Hal yang Diminta
Mazmur 27:4
"Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuinginkan: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya."
Daud tidak meminta kekayaan, kemenangan, atau umur panjang. Ia meminta hadirat Tuhan. Itulah cinta pertama.
5. Cinta Pertama Maria: Memilih yang Terbaik
Lukas 10:39-42
"Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."
Saudara-saudara, Maria duduk di kaki Yesus mendengarkan Dia. Itu cinta pertama: memilih Tuhan di atas kesibukan, di atas pelayanan, di atas segalanya.
6. Cinta Pertama Paulus: Segala Sesuatu Sampah
Filipi 3:7-8
"Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus... Segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. "
Cinta pertama: semua hal duniawi menjadi sampah dibandingkan dengan mengenal Kristus.
---
BAGIAN IV: MENGAPA KITA SERING TERLEWATKAN?
1. Karena Cinta Pertama Tidak Selalu Spektakuler
Cinta pertama sering hadir dalam:
· Kesetiaan kecil yang terus-menerus
· Doa diam-diam yang tidak dilihat orang
· Ketaatan sunyi tanpa pujian
· Penderitaan yang ditanggung dengan iman
2. Karena Kita Sering Terlena dengan "Cinta Monyet"
Kita mengira sedang mencintai Tuhan padahal:
· Kita hanya mencintai berkat-Nya
· Kita hanya mencintai pelayanan yang membuat kita dihargai
· Kita hanya mencintai gereja yang nyaman
· Kita hanya mencintai pengalaman rohani yang membuat kita merasa istimewa
3. Karena Cinta Pertama Dikenali Saat Kehilangan
Seperti mempelai wanita dalam Kidung Agung, kita baru sadar betapa kita mencintai Tuhan saat Dia seolah menjauh. Saat doa tidak dijawab, saat sakit berkepanjangan, saat pelayanan kering, saat Tuhan diam.
Ayub 13:15
"Lihat, Ia akan membunuh aku, aku tidak berharap lagi; namun aku akan membela jalanku di hadapan-Nya. "
Ayub kehilangan segalanya—tapi ia tidak kehilangan cinta pertamanya.
---
BAGIAN V: MEMULIHKAN DAN MEMELIHARA CINTA PERTAMA
1. Sadari: Apakah Ini Cinta Monyet atau Cinta Pertama?
Ujian - Cinta Monyet - Cinta Pertama
Saat Tuhan memberkati
- Senang, terus minta lagi
- Bersyukur, makin dekat
Saat Tuhan diam
- Marah, kecewa, cabut
- Mencari, bertahan
Saat Tuhan meminta pengorbanan
- Menawar, alasan
- Rela, meski berat
Saat pelayanan tidak dihargai
- Iri hati, berhenti
- Tetap setia karena Tuhan
Saat melihat Tuhan secara langsung (nanti)
- Takut karena dosa
- Sukacita karena bertemu yang dirindukan
2. Kembali ke Cinta Pertama (Wahyu 2:4-5)
"Ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang dahulu engkau lakukan. "
Langkah bertobat:
· Ingat bagaimana awal dulu mencintai Tuhan
· Bertobat dari cinta monyet yang egois
· Lakukan lagi apa yang dulu dilakukan: doa yang sungguh, ketaatan yang tulus, kerinduan akan hadirat-Nya
3. Hidup dalam Cinta yang Kuat Seperti Maut
Praktik cinta pertama:
· Doa:
Bukan daftar permintaan, tapi kerinduan bertemu dengan Dia
· Firman:
Bukan untuk mencari janji berkat, tapi untuk mengenal Dia
· Pelayanan:
Bukan untuk dilihat orang, tapi untuk memuliakan Dia
· Penderitaan:
Bukan untuk dikeluhkan, tapi untuk bertumbuh dalam cinta
· Komunitas:
Bukan untuk dicari kenyamanan, tapi untuk saling mengingatkan pada cinta pertama
---
BAGIAN VI: KESIMPULAN
Cinta Pertama yang Abadi
Cinta Monyet
Egois, berpusat pada diri
Instan, ingin segera
Bersyarat
Hilang saat tidak dapat keuntungan
Cinta Pertama
Berpusat pada yang dikasihi
Sabar, tahan uji
Tanpa syarat
Bertahan dalam penderitaan
Disadari saat terlewat
Kidung Agung 8:6-7 adalah janji bahwa cinta sejati tidak bisa dikalahkan:
· Kuat seperti maut —tidak takut pada kematian
· Gigih seperti dunia orang mati —tetap ada di alam maut sekalipun
· Tak terpadamkan —air banyak, banjir, pencobaan apa pun tidak bisa menghancurkan
Inilah cinta pertama yang kita rindukan: cinta yang tidak pernah padam, yang bertahan bahkan saat Tuhan seolah menjauh, yang akhirnya diakui sebagai cinta sejati saat kita bertemu Dia muka dengan muka.
Maka, marilah kita bertanya:
· Apakah aku mencintai Tuhan karena apa yang Dia beri, atau karena Dia sendiri?
· Apakah aku akan tetap mencintai-Nya jika semua berkat dicabut?
· Apakah cintaku kuat seperti maut?
Wahyu 2:4-5
"Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang dahulu engkau lakukan."
"Tuhan Yesus, aku tidak ingin kehilangan cinta pertama. Aku tidak ingin mencintai-Mu hanya karena berkat, hanya karena kenyamanan, hanya karena kebiasaan. Ajar aku mencintai-Mu seperti mempelai mencintai mempelai—setia dalam kehilangan, kuat dalam penderitaan, dan pada akhirnya bertemu dengan-Mu muka dengan muka. Pulihkan cinta pertama dalam hidupku, dan biarlah ia bertahan sampai selama-lamanya. Amin."
Komentar
Posting Komentar