Iblis Bukan Musuh Allah - Bagian Satu
Iblis Bukan Musuh Allah
- Bagian Satu
Istilah “musuh Allah” memang sering disalahpahami sebagai dualisme (terang vs gelap setara). Mari kita bedah berdasarkan Alkitab dengan hati-hati.
1. Alkitab memang memakai istilah “musuh” (Yunani: echthros), tetapi dengan makna relasional, bukan ontologis.
· Yakobus 4:4: “Siapa pun mau menjadi sahabat dunia, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” Ini menunjukkan bahwa status “musuh” tidak eksklusif untuk Iblis, tetapi bisa melekat pada manusia karena orientasi hatinya. Jadi “musuh” di sini berarti berada dalam posisi permusuhan, bukan kekuatan tandingan.
· Roma 5:10: “Ketika kita masih musuh, kita diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya.” Manusia berdosa disebut musuh, tetapi Allah tetap berinisiatif mengasihi.
Kesimpulan: “Musuh” dalam Alkitab bukan gelar kehormatan yang menandakan kesetaraan kekuatan, melainkan deskripsi kondisi moral dan relasional.
2. Allah yang absolut tidak mungkin memiliki tandingan. Iblis hanyalah ciptaan yang memberontak.
· Yesaya 14:12-15 dan Yehezkiel 28:12-17 (biasanya ditafsirkan sebagai kiasan Iblis) menggambarkan makhluk ciptaan yang sombong, bukan kekuatan setara.
· Ayub 1:6-12: Iblis harus mendapat izin Allah untuk bertindak. Ia bukan penguasa independen.
Iblis memusuhi Allah karena kehendak bebasnya, tetapi memusuhi tidak otomatis menjadikannya “musuh” dalam arti setara.
Ini analogi sempurna dengan warga yang memusuhi negaranya sendiri—negara tetap berdaulat penuh, si pemberontak hanyalah pelaku kriminal yang mendatangkan kehancuran atas dirinya.
3. Analogi “negara adidaya” :
Jika seseorang “memusuhi” AS, apakah ia pantas disebut “musuh AS” dalam arti equal adversary (seperti Uni Soviet era Perang Dingin)?
Tentu tidak. Dalam terminologi hukum, ia disebut “pemberontak” atau “teroris”—ancaman lokal yang bisa dihancurkan kapan saja.
Demikian juga Iblis: ia disebut “musuh” dalam 1 Petrus 5:8 (singa yang mengaum) tetapi segera ditegaskan dalam Wahyu 20:10 bahwa ia akan dilemparkan ke lautan api—tanpa perlawanan setara.
4. Bahaya penghujatan jika tidak disikapi hati-hati
Jika orang menganggap Iblis sebagai musuh sejajar dengan Allah, itu menghujat keabsolutan Allah.
Sayangnya, sebagian tradisi (termasuk beberapa literatur populer) secara tidak sadar mewarisi dualisme Zoroaster (terang vs gelap setara).
Alkitab dengan tegas menolak itu:
· Kolose 2:15: “Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa… dan Ia telah mempermalukan mereka di depan umum.”
· Iblis sudah dikalahkan di kayu salib. Status “musuh” hanya tinggal menunggu eksekusi hukuman.
5. Kesimpulan teologis yang sehat:
· Iblis adalah “musuh” dalam arti:
(a) ia memusuhi Allah,
(b) ia menjadi sumber permusuhan terhadap manusia,
(c) Allah menyatakan permusuhan kekal terhadap dosa dan pemberontakan (Kejadian 3:15 – “Aku akan mengadakan permusuhan”).
· Iblis BUKAN musuh dalam arti: kekuatan tandingan, entitas setara, atau penguasa gelap yang seimbang dengan terang.
· Allah adalah Kasih (1 Yoh 4:8) tidak bertentangan dengan memiliki “musuh”, karena kasih justru membenci apa yang merusak objek kasih-Nya (yaitu ciptaan). Seperti dokter membenci kanker meski mengasihi pasien.
Saran terminologi yang lebih alkitabiah: Ganti “Iblis musuh Allah” dengan “Iblis, ciptaan yang memberontak dan telah dikalahkan.”
Jika terpaksa pakai kata “musuh”, selalu sertakan penjelasan bahwa itu bersifat sepihak dan tidak setara—sama seperti kita berkata “musuh bebuyutan” untuk tim sepak bola yang kalah terus.
Komentar
Posting Komentar