Persembahan Najis - Redefinisi Dosa (Dwi Natur - 1)

Persembahan Najis - Redefinisi Dosa 
(Dwi Natur - 1)

Jawaban atas pertanyaan terbesar teologi Kristen—mengapa Allah harus menjadi manusia?

Mari kita selesaikan pertanyaan ini dengan merenungkan misteri inkarnasi melalui kacamata yang telah di bangun sebelumnya.

1. Masalah yang Harus Dipecahkan: Dosa Sebagai "Persembahan Najis"

Sepanjang diskusi kita, dosa telah didefinisikan ulang bukan sekadar pelanggaran aturan, tetapi sebagai:

"Merasa baik-baik saja tanpa anugerah" = kemandirian sombong = menggunakan kekayaan real (hati, pikiran, akal, kekuatan) untuk diri sendiri = menahan diri dari Allah = persembahan palsu seperti Kain.

Dosa adalah kegagalan mempersembahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Manusia terus-menerus mempersembahkan "sesuatu" kepada Tuhan—kurban, puasa, doa, persepuluhan—tetapi menahan yang paling "penting" - dirinya sendiri. Seperti Kain, kita memberi hasil tanah tapi memegang erat hati dan masa depan kita.

Masalahnya: Sulit bagi manusia untuk bisa mempersembahkan diri sepenuhnya karena kita sudah tercemar dosa. Kita tidak punya "persembahan yang layak" untuk diberikan. Bahkan persembahan terbaik kita pun najis di hadapan Allah (Yesaya 64:6).

2. Solusi yang Mungkin: Allah Mengirimkan "Persembahan" dari Sisi Manusia

Jika manusia tidak bisa mempersembahkan diri yang layak, maka harus ada manusia yang bisa. Tapi semua manusia berdosa. Tidak ada yang layak.

Maka satu-satunya cara: Allah sendiri yang menjadi manusia. Bukan untuk "menggantikan" kita secara mekanis, tetapi untuk menjadi "Persembahan Sempurna" dari pihak manusia kepada Allah.

Inilah jawaban atas pertanyaan "mengapa Allah harus jadi manusia?":

Karena hanya manusia yang bisa mempersembahkan diri kepada Allah. 
Tetapi hanya Allah saja yang bisa mempersembahkan diri secara sempurna. Maka Allah menjadi manusia agar dari pihak manusia, ada persembahan yang sempurna dipersembahkan kepada Allah.

3. Realita "Persembahan" Versi Allah: Kenosis sebagai Tindakan Mempersembahkan

Sekarang kita lihat apa yang Yesus lakukan. Filipi 2:5-8:

"Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."

Apa yang Yesus "persembahkan" dalam inkarnasi?

1. Ia mempersembahkan keilahian-Nya. Ia melepaskan kemuliaan, kuasa, hak-hak istimewa sebagai Allah. Ini bukan "tepatnya" kehilangan keilahian, tetapi pengosongan diri dari penggunaan hak-hak ilahi. Ini adalah "sukarela yang memaksa" versi ilahi.
2. Ia mempersembahkan tubuh manusiawi-Nya. Ia mengambil daging yang lemah, bisa lapar, haus, lelah, sakit, dan mati. Ia masuk sepenuhnya ke dalam kondisi manusia yang terbatas.
3. Ia mempersembahkan kehendak-Nya. "Bukan kehendak-Ku, tetapi kehendak-Mu yang jadi." Di taman Getsemani, keringat-Nya seperti darah, begitu berat peperangan batin untuk mempersembahkan kehendak.
4. Ia mempersembahkan nyawa-Nya. Sampai mati, bahkan mati di kayu salib—kematian paling hina dan paling sakit.

Ini adalah persembahan total. Tidak seperti Kain yang memberi sebagian dan menahan cadangan. Tidak seperti kita yang sering memberi tapi masih menggenggam. Yesus memberi semua yang Ia miliki: keilahian, kemanusiaan, kehendak, nyawa. Ia tidak menahan apa pun.

4. Mengapa Harus Menderita, Dihina, dan Mati?

Karena hanya dengan itulah persembahan itu sempurna. Coba bayangkan:

· Jika Yesus hanya menjadi manusia biasa, hidup saleh, lalu mati tua di tempat tidur—apakah itu persembahan yang cukup? Tidak. Karena dosa manusia telah mencapai kedalaman penderitaan, penghinaan, dan kematian. Untuk menebus yang terhilang, Ia harus masuk ke titik terdalam kehilangan itu.
· Penderitaan: Yesus mempersembahkan tubuh-Nya dalam penderitaan fisik yang luar biasa. Ini bukan sekadar sakit, tetapi solidaritas dengan semua manusia yang menderita.
· Penghinaan: Yesus mempersembahkan martabat-Nya. Ia diludahi, dicambuk, dimahkotai duri, ditelanjangi, diejek. Ia mengalami penghinaan terbesar. Ini solidaritas dengan mereka yang dihina, direndahkan, dibuang.
· Kematian: Yesus mempersembahkan nyawa-Nya. Kematian adalah batas terakhir ketidakberdayaan manusia. Dengan mati, Ia masuk ke dalam pengalaman paling final dari kemanusiaan yang jatuh.

Di kayu salib, Yesus mencapai titik "sukarela yang memaksa" yang paling ekstrem: Ia yang adalah Allah, yang bisa turun kapan saja, yang bisa memanggil 12 legiun malaikat, memilih untuk tetap di sana. Ia tidak menggunakan kuasa-Nya untuk menyelamatkan diri. Ia "terpaksa" oleh kasih-Nya sendiri untuk tetap setia sampai akhir.

5. Ini Adalah Contoh Bentuk "Penebusan" yang Sesungguhnya

"ini adalah contoh bentuk 'penebusan' salah dan dosa yang sesungguhnya."

Apa artinya?

Dosa adalah menahan diri dari Allah. Penebusan adalah mempersembahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Yesus datang untuk menjadi contoh dan realitas dari persembahan diri total itu.

· Dosa Adam: "Aku mau makan buah ini, aku mau menjadi seperti Allah, aku tidak butuh Engkau." (Menahan diri dari Allah)
· Penebusan Kristus: "Aku mau taat sampai mati, aku mau mengosongkan diri, aku hanya butuh Engkau, Bapa." (Mempersembahkan diri total)

Yesus tidak hanya membayar hutang dosa secara legal. Ia memulihkan pola hubungan yang benar antara manusia dan Allah. Ia menunjukkan apa artinya menjadi manusia sejati: manusia yang sepenuhnya bergantung, sepenuhnya taat, sepenuhnya mempersembahkan diri kepada Bapa.

6. Kaitannya dengan "Sukarela yang Memaksa" dalam Hidup Kita

Sekarang bagi kita, mengapa pola ini harus dicontoh. Yesus berkata: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku" (Lukas 9:23).

Menyangkal diri = "sukarela yang memaksa" = pengosongan diri = melepaskan hak, kenyamanan, keamanan demi mengikut Dia.
Memikul salib= menerima penderitaan, penghinaan, bahkan kematian sebagai konsekuensi mengikut Dia.
Setiap hari= bukan sekali seumur hidup, tapi ritme harian.

Inilah partisipasi kita dalam persembahan Kristus. Kita tidak bisa mempersembahkan diri sesempurna Dia. Tapi kita bisa masuk ke dalam irama yang sama: setiap hari melepaskan, setiap hari mengosongkan diri, setiap hari memilih untuk bergantung pada Bapa, bukan pada diri sendiri.

7. Kesimpulan: Misteri Inkarnasi yang Terbuka

Sekarang kita bisa merangkum seluruh perjalanan ini:

Pertanyaan - Jawaban

Mengapa Allah harus jadi manusia? 
Karena hanya manusia yang bisa mempersembahkan diri kepada Allah, tapi hanya Allah yang bisa mempersembahkan diri secara sempurna. Maka Allah menjadi manusia untuk menjadi Persembahan Sempurna dari pihak manusia.

Mengapa Ia harus mengosongkan diri? 
Karena dosa adalah menahan diri; penebusan adalah mempersembahkan diri total. Pengosongan diri adalah bentuk persembahan total itu.

Mengapa harus menderita, dihina, mati? 
Karena dosa manusia telah mencapai kedalaman itu. Untuk menjangkau yang terhilang, Ia harus masuk ke titik terdalam kehilangan. Solidaritas sempurna membutuhkan partisipasi total.

Apa hubungannya dengan kita? 
Kita dipanggil untuk masuk ke dalam pola yang sama: setiap hari menyangkal diri, memikul salib, mengikut Dia—dalam "sukarela yang memaksa" yang kita lakukan sebagai respons atas anugerah.

Renungan Akhir

Di kayu salib, Yesus berseru: "Sudah selesai" (Yohanes 19:30). Dalam bahasa Yunani: Tetelestai. Kata yang sama digunakan dalam konteks bisnis untuk menandakan "hutang sudah lunas." Tapi lebih dari itu, ini juga berarti "persembahan sudah sempurna."

Yesus telah mempersembahkan diri-Nya sepenuhnya. Ia tidak menahan apa pun. Ia memberikan segalanya: keilahian, kemanusiaan, kehendak, nyawa. Tidak ada lagi yang bisa diberikan. Persembahan itu sempurna.

Dan karena persembahan itu sempurna, maka kita yang percaya kepada-Nya boleh masuk ke dalam realitas persembahan itu. Kita tidak perlu lagi mempersembahkan apa pun untuk menyelamatkan diri. Kita hanya perlu masuk ke dalam persembahan-Nya—hidup di dalam Dia, mati bersama Dia, bangkit bersama Dia.

Paulus berkata: "Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku" (Galatia 2:19-20).

Inilah tujuan akhir: bukan lagi aku yang hidup, tapi Kristus. Bukan lagi aku yang mempersembahkan, tapi persembahan Kristus yang menjadi hidupku. Aku hanya masuk ke dalam arus pengosongan diri-Nya, dan di situ aku ditemukan sempurna di dalam Dia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AKSIOMA LTTI 2.9 — BAGIAN PERLUASAN (EXTENSION)

LTTI 2.0 Logika Trinitas Transenden Imanen - 3

LTTI 2.0 Logika Trinitas Transenden Imanen - 1