Prestasi vs Partisipasi (Dwi Natur & Injil Sejati) - 3
Prestasi vs Partisipasi
(Dwi Natur & Injil Sejati) - 3
Berikut adalah satu pernyataan teologis yang mengubah paradigma. Mari kita bedah dengan saksama, karena ini adalah kunci untuk memahami seluruh kehidupan Kristen.
---
1. Dwi Natur Yesus dan Dwi Natur Kita: Paralel yang Sempurna
Kita akan buat koneksi yang jarang dilihat orang: sama seperti Yesus memiliki dua natur, kita juga memiliki dua natur setelah baptisan.
a. Dwi Natur Yesus: Allah Sejati dan Manusia Sejati
Seperti telah kita bahas:
· Allah sejati: Sumber penebusan, nilai tak terhingga.
· Manusia sejati: Bentuk penebusan, mewakili umat manusia.
Tujuan Dwi Natur Yesus: Penebusan. Ia datang sebagai Allah-manusia untuk menyelamatkan kita.
b. Dwi Natur Kita: Ciptaan dan Partisipan
Setelah baptisan, kita juga memiliki "dua natur" dalam arti tertentu:
· Ciptaan: Kita tetap manusia dengan segala kelemahan, keterbatasan, dan kecenderungan dosa. Ini tidak akan hilang sampai kita dimuliakan.
· Partisipan: Kita dipersatukan dengan Kristus, sehingga hidup Kristus bekerja dalam kita. Roh Kudus diam di dalam kita, kita menjadi anggota tubuh Kristus, kita berpartisipasi dalam kematian dan kebangkitan-Nya.
Tujuan Dwi Natur kita: Agar penebusan Yesus bekerja dalam kita. Kita bukan sumber keselamatan, tapi saluran keselamatan itu.
---
2. Kesalahan Besar: Menuntut "Ciptaan" Menjadi Sempurna
Inilah yg menurut saya penafsiran salah yang menjauhkan kita dari seluruh ajaran Yesus.
Jika kita membaca "hendaklah kamu sempurna" sebagai tuntutan agar ciptaan (manusia lama, daging, natur lama) menjadi sempurna, maka:
1. Kita akan frustrasi: Karena tidak mungkin. Daging tidak bisa disempurnakan; daging harus dimatikan.
2. Kita akan jatuh dalam legalisme: Berusaha dengan kekuatan sendiri, lalu bangga jika berhasil, putus asa jika gagal.
3. Kita akan menjadi munafik: Pura-pura sempurna di luar, tapi di dalam hancur.
4. Kita akan menghakimi orang lain: Karena kita merasa lebih "sempurna" dari mereka.
5. Kita akan kehilangan Injil: Karena kita mengandalkan prestasi, bukan anugerah.
Inilah yang Yesus tegur dalam Matius 23: Orang Farisi menuntut kesempurnaan lahiriah, tapi hati mereka jauh dari Allah. Mereka "menahan diri" dari Allah, bukan menyerahkan diri.
---
3. Tuntutan Sejati: Sempurna dalam "Keikutsertaan"
"Kita dituntut sempurna dalam keikutsertaan."
Apa artinya?
a. Keikutsertaan dalam Kematian Kristus
Roma 6:3-4: "Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian."
Keikutsertaan dalam kematian Kristus berarti:
· Kita mengakui bahwa manusia lama kita telah mati bersama Dia.
· Kita tidak lagi berusaha menyempurnakan daging, karena daging sudah dihukum mati di salib.
· Kita setiap hari mematikan keinginan daging oleh Roh.
b. Keikutsertaan dalam Kebangkitan Kristus
Roma 6:4-5: "Sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru... kita akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya."
Keikutsertaan dalam kebangkitan Kristus berarti:
· Kita menerima hidup baru dari Roh Kudus.
· Kita setiap hari dibangkitkan untuk berjalan dalam ketaatan.
· Kita mengalami kuasa kebangkitan yang mengubah kita dari dalam.
c. Keikutsertaan dalam Penderitaan Kristus
Filipi 3:10: "Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya."
Keikutsertaan dalam penderitaan Kristus berarti:
· Kita rela menderita karena iman.
· Kita melepaskan kenyamanan, harga diri, keamanan demi Dia.
· Kita masuk dalam "sukarela yang memaksa" setiap hari.
d. Keikutsertaan dalam Kemuliaan Kristus
Roma 8:17: "Kita adalah anak-anak Allah... dan jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, kita juga akan dimuliakan bersama-sama dengan Dia. "
Keikutsertaan dalam kemuliaan Kristus berarti:
· Kita memiliki pengharapan yang pasti.
· Kita tahu bahwa penderitaan sekarang tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan.
· Kita bersabar menantikan penyempurnaan.
---
4. "Hendaklah Sempurna" = "Sempurnalah dalam Keikutsertaan"
Maka, Matius 5:48 harus dibaca dalam konteks ini:
"Hendaklah kamu sempurna dalam hal berpartisipasi dalam hidup-Ku, sama seperti Bapamu yang di sorga sempurna dalam hal menyerahkan diri."
Artinya:
· Sempurnalah dalam mati bersama Aku: Setiap hari mati terhadap dosa, ego, kemandirian.
· Sempurnalah dalam bangkit bersama Aku: Setiap hari hidup dalam kebaharuan Roh.
· Sempurnalah dalam menderita bersama Aku: Setiap hari rela kehilangan demi Injil.
· Sempurnalah dalam dimuliakan bersama Aku: Setiap hari berharap pada janji kekal.
Ini bukan kesempurnaan prestasi, tapi kesempurnaan relasi. Bukan "aku sempurna," tapi "aku sempurna terhubung dengan Sumber Kesempurnaan."
---
5. Bukti dari Ajaran Yesus dan Para Rasul
Mari kita lihat bagaimana konsisten ajaran ini.
a. Ajaran Yesus
Ayat
a. Penafsiran Salah
b. Penafsiran Benar (Keikutsertaan)
Yohanes 15:4 "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu"
a. "Aku harus berusaha tinggal"
b. "Keikutsertaan: ranting melekat pada pokok, bukan berusaha sendiri"
Yohanes 14:20 "Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu" Relasi mistis abstrak Ini adalah formula keikutsertaan: kita ada di dalam Kristus, Kristus ada di dalam kita
Matius 11:28-30 "Marilah kepada-Ku... pasanglah kuk yang Kupasang"
a. "Aku harus memikul beban sendiri"
b "Keikutsertaan: kuk dipikul bersama, Ia menanggung bersama kita"
Yohanes 6:56 "Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia"
a. Ritual kosong
b. "Keikutsertaan total: hidup kita menyatu dengan hidup-Nya"
b. Ajaran Para Rasul
Rasul - Ayat - Makna Keikutsertaan
Paulus
Galatia 2:20 "Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku"
lni adalah definisi keikutsertaan: identitas kita melebur dalam identitas Kristus
Paulus
Efesus 1:3 "Dalam Kristus... telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani"
Semua berkat ada dalam Kristus, bukan di luar. Keikutsertaan adalah posisi kita.
Paulus
Kolose 3:3 "Kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah"
Hidup kita tersembunyi dalam Kristus—keikutsertaan total
Petrus
1 Petrus 4:13 "Bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus"
Penderitaan adalah bagian kita dalam keikutsertaan
Yohanes
1 Yohanes 2:6 "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup"
Keikutsertaan membawa konsekuensi gaya hidup
Yohanes
1 Yohanes 4:13 "Kita tinggal di dalam Dia dan Dia di dalam kita"
Ini adalah saling tinggal—keikutsertaan timbal balik
---
6. Implikasi Praktis: Hidup dalam Keikutsertaan
Jika kita memahami bahwa kita dipanggil untuk sempurna dalam keikutsertaan, bukan sempurna sebagai ciptaan, maka:
a. Kita Berhenti Berusaha Menyempurnakan Daging
Kita tidak lagi berkata, "Aku harus menjadi pribadi yang sabar, baik, kudus dengan usahaku sendiri."
Kita berkata, "Kristus di dalam akulah yang menjadi sabar, baik, kudus. Aku hanya mengizinkan Dia hidup melalui aku."
b. Kita Fokus pada Relasi, Bukan Prestasi
Pertanyaan kita bukan lagi, "Apa yang sudah kulakukan hari ini?" tapi "Apakah hari ini aku tinggal di dalam Dia? Apakah hidup-Nya mengalir melalui aku?"
c. Kita Menerima Kelemahan sebagai Bagian dari Rencana Allah
2 Korintus 12:9: "Justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna."
Kelemahan bukan musuh, tapi ruang bagi Kristus untuk bekerja. Kita tidak perlu sempurna secara ciptaan; kita perlu sempurna dalam membiarkan Dia bekerja melalui ketidaksempurnaan kita.
d. Kita Hidup dalam "Sukarela yang Memaksa" Setiap Hari
Keikutsertaan berarti setiap hari memilih untuk mati, setiap hari memilih untuk bangkit, setiap hari memilih untuk menderita bersama Dia, setiap hari memilih untuk berharap pada kemuliaan. Ini adalah ritme kehidupan Kristen.
e. Kita Memiliki Kepastian Keselamatan, Bukan Kecemasan Prestasi
Keselamatan kita tidak tergantung pada seberapa sempurna kita sebagai ciptaan, tapi pada seberapa sempurna keikutsertaan kita dalam Kristus. Dan keikutsertaan itu bukan usaha kita, tapi pemberian Allah melalui baptisan dan iman.
---
7. Kesimpulan Akhir: Dwi Natur Kita dalam Kristus
Dwi Natur Yesus
Allah sejati dan manusia sejati
Tujuan: penebusan
Sempurna dalam diri-Nya sendiri
Menyerahkan diri sepenuhnya
Sumber keselamatan
Dwi Natur Kita
Ciptaan (manusia lama) dan Partisipan (manusia baru dalam Kristus)
Tujuan: agar penebusan bekerja dalam kita
Tidak sempurna sebagai ciptaan, tapi sempurna dalam keikutsertaan
Dipanggil menyerahkan diri dalam keikutsertaan
Saluran keselamatan
Maka, "hendaklah kamu sempurna" bukanlah beban yang menghancurkan, tapi undangan yang memerdekakan:
"Sempurnalah dalam hal tinggal di dalam Aku, karena Aku sempurna dalam hal tinggal di dalam kamu. Sempurnalah dalam hal mati bersama Aku, karena Aku telah mati bagimu. Sempurnalah dalam hal bangkit bersama Aku, karena Aku bangkit untuk membenarkan kamu. Sempurnalah dalam hal menyerahkan diri, karena Aku telah menyerahkan diri bagi kamu."
Inilah Injil.
Bukan tuntutan agar kita menjadi sempurna, tapi jaminan bahwa kita disempurnakan di dalam Dia yang sempurna.
Bukan prestasi kita, tapi partisipasi kita dalam prestasi-Nya.
Komentar
Posting Komentar