Sakramen - 2
Sakramen - 2
Argumentasi yang Tajam: Sakramen Kristus vs Sakramen Kepentingan
Narasi ini membuat distingsi teologis yang sangat penting dan sering terlewatkan. Memang ada upaya untuk "memasukkan" Sakramen Kristus ke dalam sakramen-sakramen lain yang sudah ada, tapi narasi ini menunjukkan perbedaan mendasar: masalah "kepentingan."
Mari kita bedah dengan presisi.
---
1. Sakramen-Sakramen Lain dan "Kepentingan"-nya
a. Pengakuan Dosa (Rekonsiliasi)
Aspek - Penjelasan
Tujuan
- Pengampunan dosa pribadi
Penerima manfaat
- Diri sendiri
Motif
- Ingin diampuni, ingin damai dengan Tuhan
Kepentingan
- Jelas ada: keselamatan jiwa sendiri
Tidak salah memiliki kepentingan ini. Kita memang butuh pengampunan. Tapi sakramen ini berpusat pada diri sendiri—aku datang untuk menerima, bukan memberi.
b. Perminyakan (Sakramen Orang Sakit)
Aspek - Penjelasan
Tujuan
- Kesembuhan, kekuatan dalam sakit
Penerima manfaat
- Diri sendiri
Motif
- Ingin sembuh, ingin dikuatkan
Kepentingan
- Jelas ada: kesehatan dan keselamatan diri
Sekali lagi, ini baik dan perlu. Tapi tetap berpusat pada diri sendiri.
c. Perkawinan
Aspek - Penjelasan
Tujuan
- Keselamatan bersama pasangan, membangun keluarga Kristen
Penerima manfaat
- Diri sendiri dan pasangan
Motif
- Cinta timbal balik, kebahagiaan bersama
Kepentingan
- Ada: kebahagiaan dan keselamatan diri dan pasangan
Perkawinan adalah sakramen yang indah, tapi ada unsur timbal balik—aku memberi dan menerima dari pasanganku. Masih ada "kepentingan" di situ.
d. Imamat
Aspek - Penjelasan
Tujuan
- Melayani umat, memimpin ibadah
Penerima manfaat
- Umat, tapi juga diri sendiri (keselamatan, panggilan)
Motif
- Panggilan Tuhan, tapi juga identitas diri
Kepentingan
- Ada: aktualisasi panggilan, keselamatan diri
Imamat adalah pelayanan mulia, tapi tetap ada unsur "ini panggilanku, ini identitasku." Ada kepentingan akan makna hidup dan keselamatan.
---
2. Sakramen Kristus: Bebas dari Kepentingan Pribadi
Sekarang bandingkan dengan Sakramen Kristus (Matius 25):
Aspek - Sakramen Kristus
Tujuan
- Melayani mereka yang lapar, haus, asing, telanjang, sakit, dipenjara
Penerima manfaat
- Orang lain (yang membutuhkan)
Motif
- Kasih, tanpa pamrih
Kepentingan pribadi
- (Harus) Tidak ada—justru saat itulah Kristus mengenali kita
a. Karakteristik Unik Sakramen Kristus
1. Tidak menguntungkan diri sendiri secara langsung. Bahkan bisa merugikan: mengeluarkan uang, waktu, tenaga, bahkan risiko.
2. Tidak ada timbal balik. Yang dilayani mungkin tidak bisa membalas. Mereka lapar, miskin, asing—mereka tidak punya apa-apa untuk diberikan kembali.
3. Tidak ada "poin" rohani yang terlihat. Tidak seperti pengakuan dosa yang memberi ketenangan, atau ekaristi yang memberi kekuatan rohani. Pelayanan ini bisa terasa "kering" secara rohani.
4. Sering tidak terlihat dan tidak dihargai. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada pengakuan. Bahkan mungkin dilupakan.
b. Mengapa Ini Sakramen?
Karena justru dalam ketiadaan kepentingan inilah, Kristus hadir dan dikenal.
Matius 25:37-40: "Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?... Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku."
Mereka tidak sadar bahwa mereka sedang melayani Kristus. Mereka tidak punya motif rohani yang "saleh." Mereka hanya melihat manusia yang membutuhkan dan menolong. Dan justru itulah yang diperhitungkan.
---
3. Mengapa Sakramen Kristus Menjadi Penentu?
a. Karena Tanpa Kepentingan, Iman Menjadi Murni
Semua sakramen lain masih menyangkut keselamatan diri sendiri. Itu penting, tapi belum membuktikan bahwa kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan karena Dia, bukan karena "apa yang bisa Dia berikan."
Ayub 1:9-11: Iblis menuduh Ayub: "Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah? Engkau telah membuat pagar sekeliling dia... tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia akan mengutuki Engkau di hadapan-Mu."
Iblis tahu: orang bisa taat karena kepentingan—karena diberkati, dilindungi. Tapi bagaimana jika tidak ada kepentingan?
b. Sakramen Kristus Adalah Ujian Kemurnian Kasih
Ketika kita melayani mereka yang tidak bisa membalas, ketika kita memberi tanpa pamrih, ketika kita mengasihi tanpa motif tersembunyi—di situlah kasih sejati diuji.
Lukas 6:32-35: "Jika kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? ... Dan jika kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? ... Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan."
c. Inilah Yang Yesus Contohkan
Yesus memberi diri-Nya bagi kita ketika kita masih berdosa (Roma 5:8). Tidak ada timbal balik. Tidak ada kepentingan. Kita tidak bisa membalas. Itulah kasih murni.
Dan Ia memanggil kita untuk melakukan hal yang sama: mengasihi tanpa pamrih, melayani tanpa mengharap balasan.
---
5. Implikasi: Jangan Mencuri Kemurnian Sakramen Kristus
a. Jangan Mengubahnya Jadi "Investasi Rohani"
Ada bahaya besar: kita mulai melayani sesama dengan motif agar "mendapat poin" di surga. Itu bukan lagi Sakramen Kristus, tapi transaksi dagang. Tuhan tidak tertipu.
Matius 6:1-4: "Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka... Jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang dilakukan tangan kananmu."
b. Jangan Mencari Pujian atau Pengakuan
Jika kita melayani sesama agar dipuji, agar dianggap saleh, agar terkenal—kita sudah mendapat upah kita. Tapi bukan dari Tuhan.
c. Jangan Mengharap Balasan
Jika kita melayani dengan harapan suatu saat mereka akan membalas, itu bukan kasih, tapi investasi sosial. Tuhan melihat hati.
---
6. Kesimpulan: Sakramen Kristus Adalah Sakramen Kemurnian
Sakramen
- Unsur Kepentingan
- Kemurnian Kasih
Pengakuan Dosa
- Tinggi (ampunan diri)
- Rendah
Perminyakan
- Tinggi (kesembuhan diri)
- Rendah
Perkawinan
- Sedang (kebahagiaan bersama)
- Sedang
Imamat
- Sedang (panggilan diri)
- Sedang
Sakramen Kristus
- Nol
- Tinggi
Maka, Sakramen Kristus adalah:
· Sakramen yang paling tidak menguntungkan diri sendiri.
· Sakramen yang paling sulit dilakukan karena tidak ada imbalan langsung.
· Sakramen yang paling murni karena motivasinya hanya kasih.
· Sakramen yang paling menentukan karena di situlah iman sejati diuji.
Dan inilah ironi terbesar: Sakramen yang paling tidak kita sadari sebagai sakramen, justru menjadi sakramen yang menentukan apakah kita dikenal Tuhan atau tidak. Sakramen yang tidak memberi "keuntungan rohani" yang terlihat, justru menjadi sakramen yang paling berharga di mata-Nya.
---
7. Aplikasi: Hidup dalam Sakramen Kristus
1. Mulai melihat setiap orang yang membutuhkan sebagai sakramen—kesempatan bertemu Kristus tanpa kepentingan.
2. Layani tanpa pamrih. Jangan hitung-hitungan. Jangan harap balasan. Jangan cari pujian.
3. Jangan beri tahu tangan kirimu. Biarlah pelayananmu tersembunyi, bahkan dari dirimu sendiri.
4. Terima bahwa ini tidak populer. Sakramen lain memberi ketenangan, kebahagiaan, pengakuan. Sakramen ini bisa terasa "kering." Tapi justru di situlah kemurniannya.
5. Percaya bahwa Tuhan melihat. Meski tidak ada yang tahu, meski tidak ada yang berterima kasih, meski dunia melupakannya—Tuhan melihat dan Tuhan mengenal.
Matius 25:34-36: "Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan..."
Mereka tidak sadar. Mereka tidak punya kepentingan. Mereka hanya mengasihi. Dan itulah yang diperhitungkan.
"Tuhan, bersihkan hatiku dari segala kepentingan. Ajar aku melayani sesama bukan karena aku ingin dianggap baik, bukan karena aku ingin poin surga, bukan karena aku ingin balasan. Tapi hanya karena aku melihat Engkau dalam diri mereka. Dan biarlah Engkau sendiri yang menjadi upahku. Amin."
Komentar
Posting Komentar