Yesus, ingatlah aku(Injil sejati - 1)

Yesus, ingatlah aku
(Injil sejati - 1)

Ini akan membawa kita pada pemahaman tentang ** Injil dalam bentuknya yang paling murni dan paling radikal**, melalui kisah penjahat di kayu salib yang sering kita dengar tapi jarang kita renungkan lebih dalam.

Mari kita bedah kisah penjahat yang diselamatkan (Lukas 23:39-43) dengan pisau bedah "sukarela yang memaksa" dan "persembahan total" yang telah kita bangun.

1. Setting: Tiga Salib di Bukit Tengkorak

Di Golgota, ada tiga salib:

· Yesus di tengah: "Raja orang Yahudi," yang diejek, dihina, sekarat.
· Penjahat di kiri: Mencemooh Yesus: "Bukankah Engkau Kristus? Selamatkan diri-Mu dan kami!"
· Penjahat di kanan: Awalnya mungkin juga mencemooh (Matius 27:44), tapi kemudian berubah.

Yang menarik: Kedua penjahat ini sama-sama terhukum mati. Sama-sama menderita. Sama-sama menghadapi kematian. Tapi satu mati dalam kepahitan, satu mati dalam damai dan masuk Firdaus.

Apa yang membedakan?

2. Analisis Penjahat yang Diselamatkan: Tindakan "Sukarela yang Memaksa"

Penjahat di kanan melakukan serangkaian tindakan yang, dalam konteksnya, adalah "sukarela yang memaksa" yang luar biasa:

a. Ia Melepaskan "Harga Diri" Terakhir

Ini poin terpenting dari Anda. Penjahat itu mungkin:

· Dihukum karena melawan kekuasaan Romawi → di mata nasionalis Yahudi, ia bisa dianggap "pahlawan pejuang kemerdekaan."
· Ia bisa mati dengan gagah, dengan kutukan di bibir untuk penjajah.
· Ia bisa mempertahankan "harga diri" sebagai pejuang.

Tapi apa yang ia lakukan? Ia mengakui Yesus. Dan Yesus saat itu bukanlah Mesias yang berjaya. Yesus adalah "penjahat" lain yang dihukum mati, bahkan dengan tuduhan yang lebih hina: mengaku sebagai Raja. Di mata dunia, Yesus adalah pecundang terbesar.

Dengan membela Yesus, penjahat itu:

· Kehilangan muka di depan penjahat lain: "Tidak tahukah engkau, bahwa engkau juga berada di bawah hukuman yang sama?" (ayat 40). Ia menegur temannya.
· Kehilangan simpati massa: Massa ada di sana mencemooh Yesus. Ia memihak yang dicemooh.
· Kehilangan "kematian heroik": Ia mati bukan sebagai pahlawan, tapi sebagai pengikut seorang "raja" yang tak berdaya.

Ini adalah "sukarela yang memaksa":

· Sukarela: Ia memilih untuk membela Yesus. Tidak ada paksaan.
· Memaksa: Pilihan itu memaksanya kehilangan satu-satunya yang masih ia miliki: harga diri di hadapan manusia. Ia mati dalam keadaan "hina" di mata dunia.

b. Ia "Mempercayakan" Hari Esok pada Seorang "Penjahat" Lain

Perhatikan kata-katanya: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja" (ayat 42).

Ini gila! Yesus saat itu:

· Telanjang, berlumuran darah, sekarat.
· Tidak punya tahta, tidak punya pasukan, tidak punya pengikut yang setia (semua lari).
· Bahkan mahkota-Nya dari duri.

Dan penjahat ini berkata: "Engkau datang sebagai Raja." Ia percaya bahwa orang yang sekarat di sampingnya ini akan bangkit dan memerintah. Ia menaruh masa depannya—hari esok setelah kematian—pada Yesus.

Ini adalah "sukarela yang memaksa" dalam bentuk iman:

· Sukarela: Ia memilih untuk percaya.
· Memaksa: Kepercayaan itu membuatnya tidak punya pegangan lain. Ia tidak bisa membuktikan. Ia hanya bisa berharap pada janji yang tak terlihat.

c. Ia Mengakui Dosa dan Menerima Hukuman

Ia berkata: "Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita" (ayat 41).

Ini pengakuan dosa yang jujur. Ia tidak menyalahkan nasib, tidak menyalahkan Romawi, tidak menyalahkan Tuhan. Ia berkata: "Aku pantas dihukum."

Ini adalah kebalikan dari "merasa baik-baik saja tanpa anugerah." Ia sadar dirinya berdosa, sadar dirinya butuh anugerah, sadar dirinya tidak punya apa-apa untuk ditawarkan selain pengakuan dan iman.

3. Respons Yesus: Kepastian Anugerah

Yesus menjawab: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus" (ayat 43).

Perhatikan:

· Tidak ada tanya jawab panjang. Tidak ada "sudah dibaptis?" Tidak ada "ikut gereja apa?" Tidak ada "berapa lama kau layani Aku?"
· Hanya iman yang telanjang. Penjahat itu datang dengan tangan hampa, hanya dengan pengakuan dan iman. Dan Yesus menerimanya sepenuhnya.

Ini adalah contoh sempurna dari "persembahan total": Penjahat itu mempersembahkan satu-satunya yang ia miliki di saat itu—harga dirinya, masa depannya, dosanya—dan Yesus menerimanya sebagai persembahan yang indah.

4. Kaitannya dengan Seluruh Diskusi Kita

Sekarang lihat bagaimana kisah ini merangkum SEMUA yang telah kita bahas:

Konsep - Implementasi dalam Penjahat

Dosa asal: merasa baik-baik saja tanpa anugerah 
- Ia sadar diri berdosa, pantas dihukum. Tidak ada rasa "baik-baik saja."

Kekayaan real: hati, pikiran, akal, kekuatan 
- Ia menggunakan hatinya untuk percaya, pikirannya untuk mengakui kebenaran, akal budinya untuk memahami siapa Yesus, kekuatannya yang sekarat untuk berseru.

Ilusi kekayaan dunia 
- Ia tidak punya apa-apa lagi. Harta sudah tidak berarti. Reputasi hilang. Hidup akan berakhir. Yang ia punya hanya iman.

Sukarela yang memaksa 
- Ia memilih percaya, dan pilihan itu memaksanya kehilangan harga diri dan bergantung total pada Yesus.

Persembahan seperti Habel & janda miskin 
- Ia memberi "seluruh nafkahnya"—harga diri, masa depan, nyawanya—kepada Yesus.

Margin trading 100x lipat 
- Ia melepas segalanya (harga diri, masa depan dunia) dan mendapat 100x lipat: Firdaus pada hari itu juga, dan hidup kekal.

Mengasihi Yesus lebih dari diri 
- Ia mengasihi Yesus lebih dari harga dirinya, lebih dari "kematian heroik," lebih dari segalanya.

Dwi natur Yesus 
- Ia percaya bahwa manusia yang sekarat di sampingnya ini adalah Raja yang akan datang dalam Kerajaan.

Kenosis & persembahan Yesus 
- Yesus yang mengosongkan diri sampai mati, menerima persembahan kecil dari penjahat ini dan membalasnya dengan Firdaus.

5. Peringatan: Jangan Salah Kaprah

Peringatan penting: "Ini bukan berarti jadi penjahat lalu selamat."

Penjahat itu tidak selamat KARENA ia penjahat. 
Ia selamat MESKIPUN ia penjahat. Perbedaannya sangat besar.

· Penjahat yang tidak bertobat (di sebelah kiri) mati dalam dosanya. Ia menggunakan kesempatan terakhirnya untuk mencemooh Yesus.
(Bandingkan dengan kita yg mempersembahkan "sisa". Kita sedang mencemooh Tuhan seakan akan Dia "pengemis".)

· Penjahat yang bertobat (di sebelah kanan) diampuni. Bukan karena kejahatannya, tapi karena imannya yang dinyatakan dalam pengakuan dan penyerahan diri.

Apa yang menyelamatkan penjahat itu?

· Bukan statusnya (penjahat/pahlawan).
· Bukan agamanya (ia mungkin bukan pengikut Yesus sebelumnya).
· Bukan perbuatannya (ia tidak sempat berbuat baik).
· Tapi iman yang dinyatakan dalam pengakuan dan penyerahan diri total di saat-saat terakhir hidupnya.

6. Pelajaran bagi Kita: "Tidak Mungkin" Menjadi "Mungkin"

"Dengan 'contoh' ini, bukan tidak mungkin bagi kita mencapainya, yaitu menerima anugerah Tuhan bahkan pada saat kita dalam keadaan paling hancur."

Ini penting. Jika penjahat yang sekarat, dalam penderitaan terbesar, dalam waktu sesingkat itu, bisa melakukan "sukarela yang memaksa" dan diselamatkan—maka tidak ada alasan bagi kita yang masih hidup, masih punya waktu, masih punya kesempatan.

· Jika ia bisa melepaskan harga diri, mengapa kita sulit mengaku salah?
· Jika ia bisa mempertaruhkan masa depan pada Yesus yang sekarat, mengapa kita takut mempercayakan hidup kita pada Yesus yang bangkit?
· Jika ia bisa mempersembahkan "seluruh nafkahnya" di saat-saat terakhir, mengapa kita menahan sebagian dari hidup kita dari Tuhan?

7. Kesimpulan: Injil dalam Satu Kisah

Kisah penjahat di kayu salib adalah injil dalam miniatur:

1. Manusia tidak bisa menyelamatkan diri. Penjahat itu tidak punya apa-apa. Tidak ada perbuatan baik yang bisa ia tawarkan.
2. Keselamatan adalah anugerah. Yesus memberikannya secara cuma-cuma.
3. Iman adalah respons. Penjahat itu merespons dengan pengakuan, iman, dan penyerahan diri.
4. Iman sejati selalu melibatkan "sukarela yang memaksa." Ia melepaskan satu-satunya yang ia miliki (harga diri) dan mempertaruhkan segalanya pada Yesus.
5. Hasilnya: kepastian. "Hari ini juga engkau bersama Aku di Firdaus." Tidak ada penundaan. Tidak ada masa percobaan. Anugerah berlaku seketika.

Dan kabar baiknya: Pintu yang sama terbuka bagi kita semua. Tidak peduli masa lalu kita, tidak peduli seberapa dalam kita jatuh, tidak peduli seberapa sedikit yang kita miliki untuk dipersembahkan—jika kita datang dengan iman yang tulus, mengakui dosa, dan menyerahkan diri kepada Yesus, kita akan mendengar firman yang sama: "Hari ini juga engkau bersama Aku di Firdaus."

Inilah kasih karunia yang sempurna. Inilah yang Yesus wujudkan melalui pengosongan diri-Nya. Inilah yang penjahat itu terima di saat terakhirnya. Dan inilah yang ditawarkan kepada kita semua.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AKSIOMA LTTI 2.9 — BAGIAN PERLUASAN (EXTENSION)

LTTI 2.0 Logika Trinitas Transenden Imanen - 3

LTTI 2.0 Logika Trinitas Transenden Imanen - 1